Cari Blog Ini

Selamat datang di Inspirasiku

Realisasi Mimpi = Doa +Optimis + Positif Thingking+ Usaha + Mental Baja :)

Selasa, 05 April 2011

Jalan Setapak




Ada satu pepatah yang saya ingat ketika membaca sebuah buku yang menginspirasi saya untuk menulis yaitu “jika mereka diam saya berjalan, Jika mereka berjalan saya berlari, jika mereka berlari saya sudah sampai tujuan, jika mereka telah sampai tujuan saya istirahat, dan jika mereka istirahat saya mulai berlari.” Sebuah kalimat yang akhirnya menginspirasi saya agar seseorang harusnya memiliki pikiran lebih maju dari yang lain.
Kita tidak bisa diam saja jika menginginkan sesuatu yang lebih besar. Harapan bukanlah sebuah jalan setapak, yang sedikit kali usaha untuk dapat melewati jalan setapak. Jalan setapak terlalu mudah untuk dilewati, kita belum terbiasa untuk menikmati batu tajam yang ada di depan kita. Jalan kita yang terlalu mulus untuk dilewati yang terkadang menganggap kita sudah sampai tujuan padahal ini hanyalah sebuah fatamorgana yang akan mempengaruhi pikiran untuk menghentikan segala tujuan awal yang telah kita rancang dengan sempurna.
Fatamorgana yang menganggap bahwa tujuan dan harapan sudah selesai, kenikmatan sesaat yang terlalu fatal jika anda telah jatuh dan tak mau bangkit kembali. Fatamorgana yang dapat mempengaruhi jalan pikiran anda untuk berhenti berharap. Jalan setapak yang anda lalui merupakan sebuah  jebakan anda untuk menikmati setiap detik nafas yang tersisa karena harapan anda hanyalah sebuah ilusi. Untuk itu jalan yang terbaik untuk anda adalah perbaiki langkah kaki dan perhatikan setiap jalan yang ingin anda tempuh.
Buatlah perencanaan yang matang dari setiap jalan yang ingin anda lalui. Dengan membuat perincian secara detail misalnya saja dengan cara memberikan pertanyaan kepada perencanaan tersebut
1.    Berapa lama anda sanggup melakukan perjalananan?
2.    Perjalanan seperti apa yang ingin anda lalui?
3.    Rintangan-rintangan apa saja yang nanti akan dihadapi? 
4.    Apa tujuan dari setiap perjalanan yang ingin anda lakukan
Tulislah perencanaan anda secara jelas dari setiap jalan yang ingin anda lalui karena setiap jalan yang ingin anda lalui berpengaruh terhadapa masa depan anda. Jalan setapak yang anda lalui kini berubah menjadi jalan berliku sesuai dengan harapan anda saat ini.
Perhatikan setiap lingkungan yang berada dalam setiap jalan ini, apakah ada tikungan yang tajam untuk anda melemaskan otot-otot sekedar untuk menarik nafas agar tidak tergesa-gesa untuk melalui, karena bisa bearti langkah yang anda lalui dapat menjatuhkan anda sendiri. Disini memerlukan keputusan-keputusan yang tepat untuk bisa membantu anda melakukan perjalanan kembali. Jangalah tergesa-gesa ketika mengambil keputusan yang terpenting dalam hidup anda. Pikirkan baik-baik keuntungan dan kerugian dari segala akibat keputusan yang anda ambil. 
Keputusan yang anda ambil akan mempengaruhi segala gerak langkah anda menuju tujuan tersebut. Bisa jadi tujuan yang anda miliki membawa kegagalan daripada kesuksesan ketika anda melakukan keputusan yang tak tepat. Untuk itu perhatikan setiap langkah kaki anda. Jangan sampai saat ini menginjakkan kaki ke tempat yang salah. Atau anda justru terlalu berhati-hati untuk melangkah sehingga jalan yang anda lalui menjadi sulit sekali di kendalikan. Gerak kaki anda menjadi ragu-ragu untuk melangkah. Justru yang anda lakukan menghambat semua tujuan, sehingga waktu terus beputar tetapi anda  masih terdiam untuk mempertimbangkan segala tujuan anda.
Hal ini menjadi penghalang anda untuk mencapai harapan dan tujuan diinginkan. Ringankan kaki anda saat ini kemudian tajamkan mata anda untuk memperhatikan segala rintangan. Kuatkan kemauan anda untuk terus melangkah anggap jalan yang anda lalui adalah jalan yang tak berlobang. Dengan cara seperti ini,  kaki anda dapat melangkah ke tujuan akhir.

Senin, 04 April 2011

Fasilitas Alam




Pernahkah anda mendengar kicauan burung di pagi hari. Jika kita amati lebih dalam kumpulan burung menikmati keindahan pagi ini dengan merangkaikan nada-nada indah menjadi sebuah lagu yang akan dinikmatin oleh semuanya.
Setiap hari burung selalu berkicau walau terkadang hujan membasahi bumi, sekumpulan burung selalu berusaha untuk berkicau tak mengenal hari apakah hari ini senin atau sebaliknya sabtu. Burung-burung selalu menunjukkan keceriaan yang luar biasa. Mereka semua menikmati embun pagi yang tersisa di setiap sudut-sudut bumi. Keceriaan di pagi yang menganggumkan layaknya burung yang bernyanyi dengan indahnya, menunjukkan rasa syukur yang luar biasa terhadap seluruh ciptaan Tuhan.
Rasanya hal ini layak kita tiru, andaikan saya burung saya akan bernyanyi dengan riang gembira mengikuti irama alam yang sudah diciptakan olehNya. Tetapi saya bukan burung-burung itu, terkadang ketika pagi menjemput banyak orang mengatakan bahwa ini bukan pagi yang indah untuk saya. Saya akan di hadapkan dengan banyak permasalahan pekerjaan di pagi ini, jika saya boleh memilih mungkin lebih baik tidak pernah ada pagi berarti saya tidak akan melewati seluruh permasalahan di dalam pekerjaan saya. Pernahkah anda berpikir hal demikian? ketika anda merasa bahwa lingkungan pekerjaan sudah tak pernah lagi bersahabat dengan anda, banyak hal perubahan sifat yang anda alami saat ini.
Tidak hanya di dalam pekerjaan saja, ketika anda bangun dan berharap tak pernah ada lagi beban yang anda hadapi sekarang ini terlalu sulit untuk melepaskan segala beban yang sudah mengikat segala pikiran anda untuk memikirkan hal ini. Hal ini membuat anda tak pernah menikmati pagi-pagi ini, anda bahkan tak menghiraukan titikan embun yang jatuh menyentuh bumi.  Tidak hanya itu bahkan kicauan burung yang sangat indah tak pernah kita hiraukan pula.
Jika anda mengatakan “Ini karena sang burung tak memiliki masalah layaknya kita seorang manusia” rasanya hal ini menjadi satu pelajaran yang sangat berarti. Ketika kita bangun terkadang kita lupa untuk mensyukuri segala nikmat yang diberikan olehNya, justru tanpa kita sadari terlalu banyak kata-kata yang mengandung keluhan yang sering kali terucapkan. Seperti “kenapa harus pagi lagi?” atau “saya masih belum puas menikmati hari libur saya”. Hal seperti ini terkadang justru yang mewarnai pagi ini.
Berusaha untuk selalu bersyukur terkadang bukanlah sesuatu hal yang mudah, karena ketika beranjak dari tempat tidur justru segudang masalah yang terpikirkan oleh kita. Rasanya kita harus menyadari dengan kita bersyukur seperti berusaha menikmati tetesan embun yang terdengar indah ketika menyentuh bumi. Kita tidak pernah menyadari bahwa keseimbangan alam yang selama ini tercipta olehNya, dapat menyeimbangkan segala permasalahan yang terbebani.
Dengan bersyukur setidaknya sedikit demi sedikit keseimbangan alam yang memang sudah tersedia olehNya dapat di nikmatin anda. Dan berkatalah kepada diri anda sendiri mulai detik ini saya akan berusaha untuk menikmati kicauan burung yang sangat indah, tetesan embun yang membentuk nada, udara pagi yang semakin menyegarkan dan berbagai fasilitas alam yang sudah tersedia untuk kita. Fasilitas alam yang di ciptakan olehNYa  memiliki sebuah tujuan yaitu segala hal yang terjadi didalam hidup ini  agar mampu kita syukuri walaupun itu terasa berat untuk anda. Tetapi percayalah sedikit anda bersyukur anda telah mengurangi dua kali lipat beban pikiran anda terhadap permasalahan yang anda. 

Jumat, 01 April 2011

Saya mampu karena saya mau





Apa yang mendorong anda untuk melakukan usaha maksimal? Dan apa yang mematahkan usaha anda ketika usaha anda dinilai belum maksimal? Salah satunya adalah sebuah keinginan.
Tanpa anda sadari setitik keinginan akan mempengaruhi jalan pikiran anda untuk melakukan hasil yang maksimal. Pernahkah anda merasa bahwa anda tak mampu melakukan sesuatu? Apa yang mendorong anda memikirkan bahwa anda tak dapat berbuat sesuatu terhadap apa yang anda usahakan. Keinginan mempengaruhi pikiran anda untuk berkata “tidak” dengan kata tersebut anda mampu melemaskan seluruh otot dan jalan pikiran anda untuk berhenti bekerja. Kata “tidak” berarti anda mengijinkan seluruh anggota tubuh menolak segala hal yang berhubungan dengan usaha anda.
Walaupun usaha tersebut telah anda nilai dengan cara yang maksimal tetapi jika kata hati anda menolak dan mengatakan “tidak” secara otomatis pikiran anda akan bekerja mempengaruhi gerak otot dan aliran darah dalam tubuh anda sehingga usaha tersebut dinilai tidak mampu menyamakan rasa keinginan yang sebenarnya bukan dari anda.
Suatu saat teman saya bercerita kepada saya bahwa tujuan hidupnya hanya satu keinginanya yaitu menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya demi kebahagian orang tuanya.
Keinginan yang terbesar adalah membahagiakan orang tuanya, tetapi dia tidak menyadari dibalik keinginan terbesarnya tanpa terucapkan oleh rangkaian kata-kata pastinya dia merasa tak mau untuk menikah dengan laki-laki yang asing baginya.
Suka tidak suka, mau tidak mau pernikahan itu akhirnya terjadi juga. Kedua orang tuanya sangat menyayangi sang anak yang dinilainya memiliki hati yang lembut dan tak melawan akan keinginan kedua orang tuanya.
Sang wanita berusaha untuk mencintai laki-laki tersebut demi kebahagian orang tuanya. Sekali lagi dia mengorbankan perasaanya untuk berusaha mencintai laki-laki tersebut. Tetapi sekalipun dia berusaha untuk mencintai laki-laki pilihan orang tuanya, dia merasa tersiksa dengan usaha yang telah dilakukan dengan maksimal. Dia selalu menangis kita usahanya tidak berhasil dengan mencintai laki-laki tersebut. Hari berganti hari, dan tahun pun berganti tahun sebuah kejadian yang mereka alami begitu pahit ketika mereka harus berpisah karena alasan “saya tak mampu mencintainya”.
Masalah ini terjadi ketika kedua orang tua sang wanita meninggal dunia dan masalah menjadi runcing ketika sang wanita memutuskan ingin mengakhiri mahligai pernikahan yang dibangun hampir 5 tahun lamanya. Sang wanita merasa begitu tersiksanya usaha yang dilakukan tak membuahkan hasil sama sekali. Bahkan dia merasa semua usahanya dilakukan karena keterpaksaan bukan keikhlasan yang diperoleh dari hati.
Dari cerita ini kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa keinginan yang didasari oleh keikhlasan hati dan usaha yang maksimal dapat memperoleh hasil yang maksimal pula. Keikhlasan hati menjadi hal yang diperlukan untuk menunjang usaha anda. Satu kalimat yang sangat berharga yang menunjukkan usaha anda dan keikhlasan hati anda tergambarkan dalam kalimat “saya mampu karena saya mau”

Rabu, 30 Maret 2011

Inspirasi Kreativitas Sang Bocah




Pada hari itu ketika  saya memutuskan untuk mencoba peruntungan di dunia bisnis dan usaha, saya telah banyak belajar banyak hal bagaimana memulai sebuah usaha.
Saya berusaha untuk mencari usaha dan bisnis apa yang tepat untuk saya. Seorang pengrajin dan pengusaha memberikan banyak inspirasi untuk memulai langkah baru didunia bisnis. Beliau adalah pak slamet, seorang wirausaha yang sangat peduli terhadap lingkungan dengan memanfaatkan sampah-sampah yang berada disekitarnya. Pak slamet adalah pendiri dari usaha yang di beri nama “LUMINTU”.
Perjalanan menuju rumah beliau yang menempuh perjalanan sekitar 2 jam lamanya. Perjalanan yang tak sia-sia, banyak sekali bekal yang di dapat dari sosok pak slamet. Beliau bercerita banyak mengenai jatuh bangun usahanya yang di rintis sejak tahun 1998.
Ada satu hal yang menarik dari sosok seorang pak Slamet yaitu daya kreativitas tingkat tingginya. Jika anda mengunjungi rumah beliau, hampir semua sampah dia mampu menggunakan untuk modal kerajinannya. Tak ada sampah yang tak dapat dia sulap yang dapat menghasilkan sejumlah uang.
Rasa penasaran saya semakin menjadi ketika melihat kreativitas seorang bapak yang usianya sudah tak lagi muda. Sehingga saya banyak sekali mengajukan pertanyaan kepadanya, salah satu pertanyaan yang sangat menarik untuknya adalah “Biasanya bapak mendapatkan dari mana inspirasi untuk kerajinan ini?” beliau menjawab dengan lugas bahwa “Mba, kreativitas itu bisa saja datang seseorang yang masih bocah” Kemudian dia menunjukkan sebuah alat yang sudah menjadi sampah dan dapat digunakan kembali untuk berbagai permainan yang diciptakan oleh anak-anak.
Alat tersebut sangat sederhana terbuat dari beberapa pulpen yang diciptakan untuk dapat dibuat permaianan temba-tembakan. “Bapak, banyak belajar dari beberapa bocah yang kumpul disini” tanpa kita sadari pernyataan tersebut memberikan pelajaran yang sangat berarti bahwa kita tidak boleh memandang sebelah mata daya penciptaan dari seorang anak. Bisa jadi penciptaan dan daya kreasi tersebut dapat dikembangkan dan dijadikan langkah awal mencoba memulai usaha.
Beliau banyak bercerita bagaiamana daya kreasi anak-anak dapat terus menginspirasinya untuk mencoba sesuatu hal yang baru. Beliau mengatakan kepada saya bahwa “Bapak, tak ingin kalah. Ia selalu mengasah kreativitasnya dengan anak-anak yang tinggal didaerahnya. Dengan begitu bisnis ini dapat terus bertahan” pengalaman-pengalaman berharga yang beliau ceritakan menjadikan sebuah inspirasi untuk saya memulai bisnis baru.
Kreativitas kata sangat diperlukan untuk bersaing di dunia usaha. Tanpa kreativitas hanya mengandalkan pengetahuan dan jaringan sosial dapat dipastikan usaha yang kita rintis tidak akan bertahan lama. Tetapi jika anda memiliki daya kreativitas yang tak pernah ada habisnya dan memulai sesuatu yang orisional anda lebih di hargai dalam memulai usaha anda dan usaha anda akan terus berkembang seiring dengan berjalanya daya kreativitas anda. Mulailah belajar memperhatikan lingkungan disekitar anda. Barangkali seorang bocah dapat memberikan kreativitas baru dalam hidup anda.  

Selasa, 29 Maret 2011

Madu itu pasti manis





Jika anda berpikir tentang madu, apa yang terpikir oleh anda? Ada dua hal yang terpikir oleh anda yaitu sang lebah dan manis. Pernah kah anda berpikir bagaimana pekerjaan dari sang lebah yang bekerja keras untuk menghasilkan sekumpulan madu yang kita nikmatin?
Kerja keras dan kerja sama yang patut kita hargai karena menghasilkan hal yang baik pula. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, pernahkah melakukan usaha yang maksimal terhadap keinginan anda? Jika keinginan anda belum terwujudkan anda sudah mengatakan bahwa “saya sudah berusaha maksimal, tetapi mengapa keberuntungan belum saya dapatkan?”  Lalu saya kembali bertanya kepadanya “mengapa keberuntungan yang anda tanyakan? Bukankah usaha anda yang harus dipertanyakan?”  terkadang hal seperti inilah yang mempengaruhi jalan pikiran kita.
Ketika kita menganggap bahwa kami telah berusaha secara maksimal mengusahakan daya dan upaya agar segala keinginan kami dapat terkabulkan. Tetapi pernahkah anda terpikir bagaimana usaha sang lebah menghasilkan hanya satu sendok madu? Berapa lama waktu sang lebah untuk mengumpulkannya? Dapatkah dia bekerja secara sendirian untuk memperoleh satu sendok madu? Begitu juga dengan kita. Dapatkah kita mewujudkan keinginan kita tanpa adanya dukungan dari orang lain? Atau kita ingin hidup sendiri dan tetap optimis menjalani hari demi hari dan tetap percaya bahwa saya mampu dan saya percaya terhadap mimpi saya. Tetapi hari demi hari yang anda lakukan ternyata menjadi sia-sia. Karena anda menganggap ini mimpi saya bukan mimpi mereka yang saya butuhkan hanya usaha, saya tidak memerlukan sebagian orang yang turut campur dalam mimpi saya.
Dengan hal seperti ini anda menganggap sebagian orang tersebut hanya akan merusak mimpi saya. Karena anda mereka menganggap mereka adalah pesaing. Sang lebah tidaklah mungkin dapat berkerja sendiri untuk menghasilkan madu, dia membutuhkan sang lebah yang lain untuk mimpinya. Ubahlah pikiran anda saat ini sebagai sang lebah untuk menghasilkan madu.
Karena percayalah dengan cara seperti itu seberapun usaha yang anda lakukan menghasilkan hasil yang maksimal. Tidaklah mungkin anda berpikir bahwa madu itu tidak manis.
Begitu dengan hasil yang anda inginkan, jika anda berpikir madu pasti itu manis anda pasti dapat mengalahkan segala pikiran anda akan kegagalan dan mampu merasakan bahwa ternyata kerja keras dengan dukungan orang-orang yang berada disekitar kita mampu menghasilkan hasil yang maksimal layaknya sang lebah yang menghasilkan madu yang terasa manis.

Hidup Bukanlah Sapu Lidi




Ada seorang teman bertanya, Bagaimana menjalani hidup jika telah jatuh ke jurang yang lebih dalam? Saya kemudian tersenyum kepadanya dan mengatakan hidup bukanlah sebuah sapu lidi. Teman saya kemudian menjadi tanda tanya dengan jawaban saya. Kemudian dia  menanyakan kembali kepada saya. “apa yang anda maksud dengan sapu lidi?” saya akan bercerita sebuah pengalaman saya andalah yang akan mengambil kesimpulan dari setiap pengalaman itu.
Pada suatu saat ketika itu saya mengalami sebuah masalah yang sangat sulit dalam hidup saya yaitu sebuah kejadian kecelakaan yang menghabiskan seluruh harta keluarga saya, tak hanya itu saja pada saat itu saya mengalami tekanan-tekanan sosial akan pentingnya sebuah pendidikan dan harga diri. Untuk masalah ini saya patut untuk dikatakan “sudah jatuh tertimpa tangga pula” ini terlihat ketika seseorang menjadi kepercayaan keluarga menusukkan duri tajam diantara kami sehingga kepercayaan terhadap orang tua hilang begitu saja. Ibaratkan sebuah kecelakaan itu adalah satu lidi, kemudian masalah-masalah berikutnya adalah satu lidi yang lain.
Hingga beberapa lidi yang di kumpulkan akan membentuk sebuah sapu. Jadi sapu ini adalah sekumpulan masalah yang menjadi satu dan membentuk sebuah alat yang dinamakan sapu lidi. Sapu yang berguna untuk membersihkan semua kotoran yang tersisa dimana pun adanya tapi percayakah anda sapu lidi tidaklah bisa membersihkan kotoran-kotoran kecil yang melekat di lantai.
Begitu juga masalah-masalah yang ada di dalam diri akan meninggalkan luka-luka kecil layaknya seperti sapu lidi. Meskipun anda berusaha menghapus sekalipun kotoran tersebut menggunakan sapu lidi, tetap saja akan meninggalkan kotoran-kotoran kecil. Masalah-masalah yang anda kumpulkan satu persatu lama-kelaman akan membentuk sebuah sapu lidi. Sapu lidi yang sudah terikat menjadi satu akan menjadi berhubungan dan saling ketergantungan satu sama lain.
Saat ini mungkin anda menganggap masalah anda tidak akan pernah menjadi besar. Tetapi anda tidak berusaha untuk memikirkan berbagai jalan keluar dari setiap masalah anda. Anda masih meremehkan masalah tersebut dan bahkan menganggap masalah itu tak pernah ada didalam hidup anda. Jika ini dibiarkan akan menjadi lebih berbahaya, karena sekumpulan sapu lidi tersebut akan menjadi boomerang didalam hidup anda sendiri.
Lalu pernahkah anda mengajukan pertanyaan didalam diri sendiri, bagaimanakah saya akan menjalani hari-hari saya dengan masalah-masalah tersebut? Jangan biarkan lidi-lidi dalam setiap masalah anda menjadi sekumpulan lidi dalam sebuah sapu lidi. Saya tidak pernah terpikir bagaimana sapu lidi dapat membersihkan beberapa debu kecil yang tercecer dilantai. Sapu lidi sangat tidak berguna akan hal ini. Begitu juga dengan masalah-masalah yang anda alami, jika masalah tersebut akan tumpuk menjadi satu dan berharap terjadi penyelesaian di lain hari itu sama saja menugaskan diri anda membenahi atau membersihkan sisa-sisa kotoran yang tersisa di didiri anda. Tetapi jika anda tetap bersikeras membereskan masalah ini sebelum masalah lain muncul didalam hidup anda, saya yakin anda akan mampu membersihkan masalah-masalah yang berikutnya karena anda tidak memerlukan sebuah alat untuk membersihkan masalah tersebut yang anda perlukan adalah menemukan berbagai jalan alternartif jika terjadi kebuntuan dari masalah yang anda alami saat ini.
Pikirkan dari sekarang berbagai kemungkinan jalan keluar bisa jadi ini merupakan peluang anda untuk  penyelesaian masalah tersebut. Tidak harus mengumpulkan masalah demi masalah dan meratapi nasib anda bahwa anda telah jatuh ke jurang lebih dalam. Semakin dalam anda merasakan bahwa sesungguhnya saya ini berada di dalam jurang, semakin lama anda membentuk mental ketidak percayaan diri yang menyatakan apakah saya mampu menghadapi ini.
Bangun mental anda mulai detik ini juga. Jangan biarkan pikiran terdalam anda mempengaruhi kepercayaan diri anda dan anda mengalami keterpurukan di dalam pada prinsipnya yang selalu anda ingat adalah jika lidi-lidi dalam masalah anda dapat terselesaikan dia tidak akan mengikat masalah-masalah anda sehingga tetap menjadi utuh layaknya sapu. Tetapi anda bisa menggunakan lidi-lidi dalam masalah anda sebagai cambuk dengan mengartikan bahwa jika sekumpulan lidi begitu susah saya patahkan, mengapa saya tidak mematahkan satu lidi saja. Begitu lidi yang baru muncul akan saya patahkan kembali. Begitu seterusnya dalam memandang hidup bahwa hidup bukanlah sebuah sapu lidi.    

Kamis, 24 Maret 2011

Dia tidak tidur




“Gagal lagi” ini adalah kegagalan ku yang lebih dari ke sepuluh kalinya, hingga aku lelah untuk mencobanya kembali.  Setiap aku berusaha keras pasti hasilnya tidak sesuai dengan yang ku harapkan.  Sungguh aku sudah menyerah untuk membuka usaha sekian kalinya. Bukannya keuntungan yang ku dapat justru aku sering mengalami kegagalan. Aku sudah menjual hampir seluruh harta ku untuk mencoba peruntunganku di dunia wira usaha.
Ahhhhhh rasanya aku ingin berteriak mengapa aku tidak pernah diberikan sebuah kesempatan untuk menikmati peruntungan di dunia bisnis. Kini aku harus angkat kaki dari rumah yang telah ku beli dengan hasil kerja kerasnya, sebentar lagi pasti petugas itu datang kembali untuk memperingatkan untuk ketiga kali nya bahwa aku harus meninggalkan rumah karena surat-surat rumah ini ku jaminkan untuk meminjam uang di bank. Kemana aku harus pergi, untuk membawa dua anakku ini. Kadang aku tidak rela dengan apapun yang terjadi untuk hidupku, suamiku meninggal 3 tahun lalu dan meninggalkan rumah ini.
Aku selalu mencoba untuk membuka usaha dengan sedikit harta peninggalan dari suami dahulu. Tetapi kenyataan tak bisa ku raih di depan mata. Setiap kali aku berusaha, setiap kali juga aku mengalami kegagalan. Oh Tuhan apa yang kau ingin kau lakukan padaku. Aku mempunyai dua anak yang harus ku biayai sendiri. Haruskah ke dua anakku juga mengalami hal ini.  Suara telp menggugah lamunanku, suara telepon yang sebenarnya tidak ingin ku dengar yang mengabarkan bahwa dua hari lagi petugas penyitaan akan datang dan dia memberitahu bahwa aku harus siap sedia untuk mengosongkan rumah ini.
Beberapa isi dari rumah ini sudah ku jual untuk kebutuhanku sehari hari. Anakku yang paling kecil yang masih berusia 5 tahun danti sempat menanyakan kepadaku, mengapa aku membereskan barang-barang ini. Sungguh aku tak kuasa memberikan kedua anakku bahwa sebenarnya kita harus meninggalkan rumah yang menjadi kenangan aku dan suamiku. Aku tidak pernah meminta berlebihan, yang penting cukup untuk membesarkan ke dua anakku, tetapi sekali lagi nasib keberuntungan tidak lagi berpihak padaku. 
Setiap kali aku memasukkan sisa barang-barang ini ke kardus, air mata ini tak pernah bisa berhenti untuk menangis. Anakku pertama sesekali menghapus air mata ku dan mengatakan padaku “bu, sabar yah bu. Ani pernah belajar di sekolah kalo kita harus sabar jika menghadapi masalah” aku mencium anakku. Ani dengan umurnya yang 12 tahun tahun sudah tahu dengan masalah ku. Aku berusaha untuk tetap tegar di kedua anakku tetapi tetap saja setegar-tegarnya aku pasti ada saatnya aku mengalami suatu kelelahan dalam menghadapi masalah-masalahku.
Ani tetap membantu ku untuk membereskan semua barangnya untuk masuk ke dalam kardus. Sedangkan danti di sibukkan dengan mainanya, sesekali dia mengalihkan pandangan ke kami. Aku hanya menoleh tersenyum kepadanya, sesekali aku melambaikan tangan kepadanya.  Sedikit pun rencana akan kemana belum terpikir oleh ku, rasanya sungguh aku tak ingin waktu dua hari datang secepatnya. Rasanya aku ingin memperlama hari. “ni, ibu bingung kita harus tinggal dimana” ani  permata hatiku hanya tersenyum kepadaku, dan mengatakan “bu, kita coba yuk bu di rumah nenek”   “Bantu ibu yah nak” Ani menganggukan kepalanya sesekali dia mencium ku. Oh aku sesungguhnya tidak tahu bagaimana aku harus menghadapi hidupku selanjutnya dengan uang hanya seratus ribu di tanganku.
Semua barang-barang telah ku jual, aku tidak tahu bagaimana membesarkan kedua anakku. Mengapa terkadang Tuhan tidak mendengar doa ku. Berkali-kali aku memohon untuk diberikan kemudahan, tetapi justru beraneka macam kesulitan yang aku hadapi.
Oh Tuhan apakah aku harus mempercayai Mu kembali. Mereka membutuhkan hidup selanjutnya, apalagi aku kini di tinggal oleh suamiku. Bagaimana caranya aku bisa membesarkan mereka. Akhirnya hari itu tiba, hari dimana aku harus melangkahkan kaki untuk meninggalkan rumah bersama ke dua anakku.
Hanya dua kardus yang aku bawa yaitu berisi baju-baju dan sedikit mainan yang bisa ku bawa. Aku mencoba kembali ke rumah ibu ku, semoga dia masih bisa menerima ku. Mengingat aku pernah mengecewakan ibu, ketika dia datang ke rumahku. Aku belum sempat melayani ibuku, karena kesibukan usahaku yang menyita waktuku. Sesampai di rumah ibu, aku menangis tersungkur di kaki ibu dan memohon maaf kepadanya. Sungguh aku sudah tak kuat untuk menghadapi semua kegagalan ku ini. Kalo saja aku tidak ingat ke dua anakku mungkin saja aku sudah mengakhiri hidupku. “yu, berdirilah. Ada apa kamu seperti ini?” aku menceritakan semuanya kepada ibu. Ibu akhirnya mau menerimaku untuk tinggal di rumahnya.  “Yu, Kau ambil air wudhu sana, berdoalah agar kau tenang” aku sedikit bertanya apakah sesunggunya doa masih berlaku untukku.
Apakah Tuhan bisa mendengar semua keluhanku? Lalu dimana Tuhan ketika aku sering memohon untuk segala sesuatunya. Setidaknya kepercayaanku terhadap Tuhan hampir saja sirna, kalo ibu tidak mengingatkan aku untuk berdoa. Aku sudah lupa kapan terakhir kalinya, aku bisa mengingat tentang Tuhan.
Mungkin benar apa kata ibu dan anak pertamaku, Tuhan hanya menguji kesabaranku. Ani berkata padaku “Bu, Tuhan tidak pernah tidur kok bu. Pasti akan mendengarkan doa kita kok.” Ani menggandeng tanganku dan mengajakku beribadah. Sehari-hari ani selalu mengingatkan aku agar jangan lupa berdoa.  “Bu, kalo kita berdoa setiap hari pasti Tuhan bisa kasihan sama kita”. Hingga saat itu aku berubah menjadi lebih religus, dan berpasrah diri. Akhirnya doa ku terjawab setelah sekian tahun lamanya, dengan keberhasilan ke dua anakku.
Hadiah yang paling berharga untukku, ketika di umurnya ani yang baru ke 25 tahun tetapi dia bisa mengembalikan rumah yang menjadi peninggalan ayahnya dahulu. Beberapa tahun itu telah berlalu lebih dari 15 tahun sudah aku menghadapi segala hal yang bernama proses kesabaran. Anakku membukakan hati ku untuk selalu sabar dalam menjalani sebuah proses akhir yaitu tahap berpasrah diri.
Inilah buah dari segala kesabaranku, dia menghadiahkan rumah yang pernah menjadi tempat tinggal kami dahulu. Aku menciumnya dan mengatakan terimakasih untuk segala kekuatan yang selalu dia berikan padaku. “Bu, berterima kasihlah kepada Nya, karena Dia tidak pernah tidur satu detik pun” aku tersenyum dan memeluknya.