I Love U mom
Cari Blog Ini
Selamat datang di Inspirasiku
Realisasi Mimpi = Doa +Optimis + Positif Thingking+ Usaha + Mental Baja :)
Add Facebook
Jumat, 21 Januari 2011
Katakan "yes" untuk ciptakan peluang, Dan berteriaklah "No" untuk cari peluang
Sejenak berpikir untuk memikirkan hal apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki hidup saya. Perubahan yang di lakukan berulang kali membawakan saya untuk berpikir kembali kenapa kesuksesan belum saya dapatkan? Melamun untuk memikirkan langkah apa yang selanjutnya harus saya lakukan.
Apalagi harus saya cari, sepertinya semua peluang yang di depan mata saya sudah saya lakukan tetapi hasilnya tidak seperti apa yang saya khayalkan. Terlalu lama berkhayal membuat saya jenuh, dan berpikir bahwa khayalan dapat merusak hidup saya. Saya berada di dalam dunia realitas yang sama sekali berbanding terbalik dengan apa yang saya khayalkan.
Saya baru tersadar bahwa apa yang saya kerjakan selama ini merupakan proses yang belum benar tatkala saya melihat daun yang bisa di gunakan bisa menjadi barang-barang yang kreatif seperti tas, dompet. Sesuatu yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya dan tidak terpikirkan oleh saya mengenai hal ini. Kejadian tersebut membuat saya tersadarkan bahwa apa yang saya lakukan hanya menghabiskan waktu dalam menuju tangga kesuksesan.
Waktu yang saya habiskan selama ini menjadi sia-sia karena saya hanya mencari-cari apa yang membuat hidup ini menjadi lebih baik sehingga saya dapat melakukan perubahan...
Yah, akhirnya jawaban yang selama ini saya cari telah saya temukan bahwa daripada menunggu untuk mencari peluang mulai sekarang bertindak untuk menciptakan peluang.
Dan keyakinan itu yang akan saya bawa untuk menuju tangga kesuksesan........ dan mulai katakan yes saya mampu ciptakan peluang dan berteriaklah no tidak lagi untuk saya mencari peluang
3.....
Seusai sarapan pagi bersama ibu penolong yang akhirnya ku tahu kalo namanya adalah Ana.
Dalam waktu beberapa jam kami menjadi sangat akrab. Ternyata beliau memiliki putra yang baru saja meninggal karena kejadian banjir bandang tersebut. Putra beliau bernama Irvan. Ibu menceritakan betapa sedih hatinya ketika mengetahui putra semata wayangnya itu ternyata juga menjadi korban keganasan dari air bah tersebut. Selama bercerita aku hanya menjadi pendengar yang baik yang bersedia mendengar keluh kesahnya seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya itu. Irvan turut serta menjadi korban bencana tersebut karena pada saat itu irvan menginap di salah satu temanya di wilayah itu karena mengerjakan tugas kuliah. Aku selalu memperhatikan setiap kata yang keluar dari seorang ibu yang merindukan sosok anaknya. Tak jarang ibu ana menitikkan air mata di kala mengingat kembali kejadian itu.
Aku pun bisa merasakan apa yang ibu ana rasakan, karena aku juga tidak tahu dimana keberadaan orang tuaku. Aku pun mulai berani menceritakan kejadian banjir banda tersebut. Padahal sesungguhnya kejadian itu ingin sekali aku lupakan... tapi takdir membawa ku untuk memiliki pengalaman yang sama dengan ibu ana.
Ibu sempat menawarkanku untuk tinggal dalam waktu beberapa hari ke rumahnya untuk menemani nya dalam rasa kesepian.
Sejujurnya aku merasa senang untuk menemaninya karena aku sendiri pun sebenarnya tidak tahu kemana langkah kaki ini akan melangkah.... aku sendiri merasa bingung dan tak pernah mengetahui apa rencana yang ku impikan untuk hidupku selanjutnya.
Bahkan sejujurnya aku tidak berani untuk bermimpi. Aku tidak berani untuk memulai mimpi yang indah karena ini bisa membuatku terjatuh kembali......
Sejenak lamunanku tergugah oleh suaranya yang meminta jawabanku kembali untuk mengatakan "iya". "Bagaimana ri?, kamu juga belum tahu bukan kemana kamu akan pergi. entah angin apa yang membawaku untuk mengatakan "iya". Terpancar dari raut muka ibu ana yang menunjukkan betapa leganya dia ketika mengetahui bahwa aku menyanggupi keinginannya.
Oh Tuhan bawalah ke arah mimpi ku yang lebih baik... ucapku dalam hati..
-----
Matahari perlahan-lahan mulai menghilang dan bulan kini menggantikan tugas nya untuk menyinari kehidupan. Suara pintu di ketuk dari arah depan terdengar sayup-sayup karena berlomba dengan suara hujan rintik-rintik yang terjatuh di atas atap rumah.
Aku beranjak dari kamar untuk membukakan pintu depan. "assalamuikum". "Walaikum sallam jawabku. Seorang pria yang tidak di kenal mendekatiku. Sejujurnya aku tidak tahu siapa pria ini. APakah aku salah membukakan pintu kepada orang asing, dalam lamunanku suara ibu ana terdengar dari belakan. "Oh ayah rupanya sudah pulang." Bapak itu tersenyum kepadaku. "Nak, kamu sudah sehat?". aku kembali membalas senyumnya dan menganggukkan kepala.
"ayah lebih baik mandi dulu dan bergegas untuk makan malam" sesungguh nya aku merasa asing di tengah keluarga seperti ini.
Percakapan mengenai kami di lanjutkan di meja makan. Dengan keputusan yang di buat keluarga ini menganggapku sebagai anak. Segala keperluan sekolah atau kebutuhan hidupku sudah menjadi tanggungan dari keluarga.
Aku menghembuskan nafas lega, ketika mendengar hal ini........
----------------
Dalam waktu beberapa jam kami menjadi sangat akrab. Ternyata beliau memiliki putra yang baru saja meninggal karena kejadian banjir bandang tersebut. Putra beliau bernama Irvan. Ibu menceritakan betapa sedih hatinya ketika mengetahui putra semata wayangnya itu ternyata juga menjadi korban keganasan dari air bah tersebut. Selama bercerita aku hanya menjadi pendengar yang baik yang bersedia mendengar keluh kesahnya seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya itu. Irvan turut serta menjadi korban bencana tersebut karena pada saat itu irvan menginap di salah satu temanya di wilayah itu karena mengerjakan tugas kuliah. Aku selalu memperhatikan setiap kata yang keluar dari seorang ibu yang merindukan sosok anaknya. Tak jarang ibu ana menitikkan air mata di kala mengingat kembali kejadian itu.
Aku pun bisa merasakan apa yang ibu ana rasakan, karena aku juga tidak tahu dimana keberadaan orang tuaku. Aku pun mulai berani menceritakan kejadian banjir banda tersebut. Padahal sesungguhnya kejadian itu ingin sekali aku lupakan... tapi takdir membawa ku untuk memiliki pengalaman yang sama dengan ibu ana.
Ibu sempat menawarkanku untuk tinggal dalam waktu beberapa hari ke rumahnya untuk menemani nya dalam rasa kesepian.
Sejujurnya aku merasa senang untuk menemaninya karena aku sendiri pun sebenarnya tidak tahu kemana langkah kaki ini akan melangkah.... aku sendiri merasa bingung dan tak pernah mengetahui apa rencana yang ku impikan untuk hidupku selanjutnya.
Bahkan sejujurnya aku tidak berani untuk bermimpi. Aku tidak berani untuk memulai mimpi yang indah karena ini bisa membuatku terjatuh kembali......
Sejenak lamunanku tergugah oleh suaranya yang meminta jawabanku kembali untuk mengatakan "iya". "Bagaimana ri?, kamu juga belum tahu bukan kemana kamu akan pergi. entah angin apa yang membawaku untuk mengatakan "iya". Terpancar dari raut muka ibu ana yang menunjukkan betapa leganya dia ketika mengetahui bahwa aku menyanggupi keinginannya.
Oh Tuhan bawalah ke arah mimpi ku yang lebih baik... ucapku dalam hati..
-----
Matahari perlahan-lahan mulai menghilang dan bulan kini menggantikan tugas nya untuk menyinari kehidupan. Suara pintu di ketuk dari arah depan terdengar sayup-sayup karena berlomba dengan suara hujan rintik-rintik yang terjatuh di atas atap rumah.
Aku beranjak dari kamar untuk membukakan pintu depan. "assalamuikum". "Walaikum sallam jawabku. Seorang pria yang tidak di kenal mendekatiku. Sejujurnya aku tidak tahu siapa pria ini. APakah aku salah membukakan pintu kepada orang asing, dalam lamunanku suara ibu ana terdengar dari belakan. "Oh ayah rupanya sudah pulang." Bapak itu tersenyum kepadaku. "Nak, kamu sudah sehat?". aku kembali membalas senyumnya dan menganggukkan kepala.
"ayah lebih baik mandi dulu dan bergegas untuk makan malam" sesungguh nya aku merasa asing di tengah keluarga seperti ini.
Percakapan mengenai kami di lanjutkan di meja makan. Dengan keputusan yang di buat keluarga ini menganggapku sebagai anak. Segala keperluan sekolah atau kebutuhan hidupku sudah menjadi tanggungan dari keluarga.
Aku menghembuskan nafas lega, ketika mendengar hal ini........
----------------
Selasa, 18 Januari 2011
2....
Langkah yang semakin berat ini ku pijakkan perlahan demi perlahan, kemana angin akan membawaku melangkah disitu aku yakin bahwa Tuhan masih menginginkan aku untuk menyinari bumi ini.
Ku bawa keraguan akan hidupku selanjutnya kuselipkan di sela-sela pelesir dasar hati ini. Anganku melayang menuju arah mentari yang ternyata telah muncul perlahan menyapa ku dengan cara tak biasa.....
Langkah nekad yang ku dapat, aku hanya berusaha untuk menyusuri jalan sebisaku. Sesungguhnya tidak ada bekal yang ku bawa. Nasi atau yang dapat mengganjal perutku baru saja ku habiskan beberapa jam yang lalu. Satu rupiah ku tidak tersinggahi di tubuh ini....
Semakin berat kaki ku melangkah dan kemudian aku terjatuh lebih dalam ke alam mimpi ku yang membawa hidup ini selanjutnya..... tidak ku rasakan apa-apapun juga hanya perasaan ringan. Baru kali ini aku merasakan hal seperti. Ringan seperti kapas yang sekali hembusan dapat terjatuh.Apakah angin membawaku ke nirwana........ apakah tubuh ku akan di bawa ke langit ketujuh?
perlahan-lahan suara terdengar semakin dekat di telingaku. "nak".... tetapi aku anganku masih terbawa jauh dan jauh.... Tubuhku terasa seperti terdapat goncangan hebat yang entah mendarat ke arah yang tak menentu.....
Mata yang terpejam sekian lama memaksakan mata kembali untuk melihat dunia ini.... aku tersadar dari mimpiku sekian lama. Entah berapa lama pasir waktu telah lelah untuk bekerja.
"Nak, akhirnya kamu sadar juga" seorang ibu yang menyentuh pipiku. Tangan yang semakin lembut yang bisa ku rasakan setiap jemarinya menyentuh wajahku. AKu hanya terdiam membisu memperhatikan seluruh ruangan yang terasa asing bagiku. Ruangan yang sederhana tersusun rapi dari sudut mata ini memandang.
"ibu menemukan kamu kemarin sore, tadinya mau saya bawa kamu kerumah sakit. Tapi suami saya mengatakan tunggu sampai pagi ini. Ternyata kamu sudah sadar"
Sempat terdiam sebentar dan akhirnya mulutku tak sabar untuk mengatakan sesuatu. "Maaf, sekarang hari dan tanggal berapa" Ibu itu tersenyum kepadaku lalu kembali mengatakan "Jumat 14 Januari 2005" Berarti aku tidak sadar selama 3 hari....
Aku sempat tersadar.....bahwa pada saat itu aku terjatuh ke tepi jurang dan sempat terseret arus sungai..............
Dan akhirnya aku terdampar di tempat yang sebelumnya belum pernah aku kunjungi.
Ketika ku terdiam membisu, dengan suara yang lembut ibu menganggetkan aku. "Nama nya siapa nak?" "Oh saya Riana" Ibu kembali tersenyum memandangiku.
Kemudian menepuk bahuku "Ayo kita makan dulu" aku tersenyum membalas ajakan ibu itu. AKu sudah tidak ingat sudah berapa lama perutku tidak terisi. Badan ku memang masih lemas sekali. Aku merasa kesulitan untuk berjalan. "Riana, setelah kita sarapa ada baiknya kalo saya antar kamu ke dokter. Kamu belum sehat betul." Meskipun langkah kakiku masih terpincang-pincang tapi aku yakin kalo aku sanggup tanpa harus ke dokter. "Tidak perlu bu, terimakasih" jawabku.
kami pun menuju meja makan yang telah terisi dengan makanan yang sudah lama tidak ku makan. Yah di meja tersebut terdapat makanan favoritku ayam goreng.
hmmm Keluarga ini memang sangat kecukupan gumam ku dalam hati. Ini terlihat dari beberapa koleksi krital yang terpampang rapi di lemari ukir tersebut. Ibu sempat menangkap arah mataku kepada kristal-kristal itu. Kemudian tersenyum memandangiku.
"Bapak, sudah pergi ke kantor." Ibu kembali memulai pembicaraan di tengah santap pagi yang mengenyangkan ini. Kami menemukan mu sewaktu bapak dalam perjalanan menuju lokasi bencana. Kamu terseret arus sungai ketika saya hendak membasuh muka. Tadinya kami ingin membawa mu ke rumah sakit" sebelum melanjutkan kata-katanya kembali ibu mengambilkan ayam goreng sambil tersenyum. Aku hanya menganggukkan kepalaku mendengar cerita dari ibu "Tapi kami mengambil keputusan untuk merawatmu di rumah, jika memang keadaaan tidak membaik baru kami akan membawamu kerumah sakit. Karena kami sendiri pada saat itu tidak tahu siapa namamu."
Aku tidak banyak mengatakan apapun juga hanya satu kata teringat di dalam pikiranku "Terimakasih Ibu"
........................................................................
Ku bawa keraguan akan hidupku selanjutnya kuselipkan di sela-sela pelesir dasar hati ini. Anganku melayang menuju arah mentari yang ternyata telah muncul perlahan menyapa ku dengan cara tak biasa.....
Langkah nekad yang ku dapat, aku hanya berusaha untuk menyusuri jalan sebisaku. Sesungguhnya tidak ada bekal yang ku bawa. Nasi atau yang dapat mengganjal perutku baru saja ku habiskan beberapa jam yang lalu. Satu rupiah ku tidak tersinggahi di tubuh ini....
Semakin berat kaki ku melangkah dan kemudian aku terjatuh lebih dalam ke alam mimpi ku yang membawa hidup ini selanjutnya..... tidak ku rasakan apa-apapun juga hanya perasaan ringan. Baru kali ini aku merasakan hal seperti. Ringan seperti kapas yang sekali hembusan dapat terjatuh.Apakah angin membawaku ke nirwana........ apakah tubuh ku akan di bawa ke langit ketujuh?
perlahan-lahan suara terdengar semakin dekat di telingaku. "nak".... tetapi aku anganku masih terbawa jauh dan jauh.... Tubuhku terasa seperti terdapat goncangan hebat yang entah mendarat ke arah yang tak menentu.....
Mata yang terpejam sekian lama memaksakan mata kembali untuk melihat dunia ini.... aku tersadar dari mimpiku sekian lama. Entah berapa lama pasir waktu telah lelah untuk bekerja.
"Nak, akhirnya kamu sadar juga" seorang ibu yang menyentuh pipiku. Tangan yang semakin lembut yang bisa ku rasakan setiap jemarinya menyentuh wajahku. AKu hanya terdiam membisu memperhatikan seluruh ruangan yang terasa asing bagiku. Ruangan yang sederhana tersusun rapi dari sudut mata ini memandang.
"ibu menemukan kamu kemarin sore, tadinya mau saya bawa kamu kerumah sakit. Tapi suami saya mengatakan tunggu sampai pagi ini. Ternyata kamu sudah sadar"
Sempat terdiam sebentar dan akhirnya mulutku tak sabar untuk mengatakan sesuatu. "Maaf, sekarang hari dan tanggal berapa" Ibu itu tersenyum kepadaku lalu kembali mengatakan "Jumat 14 Januari 2005" Berarti aku tidak sadar selama 3 hari....
Aku sempat tersadar.....bahwa pada saat itu aku terjatuh ke tepi jurang dan sempat terseret arus sungai..............
Dan akhirnya aku terdampar di tempat yang sebelumnya belum pernah aku kunjungi.
Ketika ku terdiam membisu, dengan suara yang lembut ibu menganggetkan aku. "Nama nya siapa nak?" "Oh saya Riana" Ibu kembali tersenyum memandangiku.
Kemudian menepuk bahuku "Ayo kita makan dulu" aku tersenyum membalas ajakan ibu itu. AKu sudah tidak ingat sudah berapa lama perutku tidak terisi. Badan ku memang masih lemas sekali. Aku merasa kesulitan untuk berjalan. "Riana, setelah kita sarapa ada baiknya kalo saya antar kamu ke dokter. Kamu belum sehat betul." Meskipun langkah kakiku masih terpincang-pincang tapi aku yakin kalo aku sanggup tanpa harus ke dokter. "Tidak perlu bu, terimakasih" jawabku.
kami pun menuju meja makan yang telah terisi dengan makanan yang sudah lama tidak ku makan. Yah di meja tersebut terdapat makanan favoritku ayam goreng.
hmmm Keluarga ini memang sangat kecukupan gumam ku dalam hati. Ini terlihat dari beberapa koleksi krital yang terpampang rapi di lemari ukir tersebut. Ibu sempat menangkap arah mataku kepada kristal-kristal itu. Kemudian tersenyum memandangiku.
"Bapak, sudah pergi ke kantor." Ibu kembali memulai pembicaraan di tengah santap pagi yang mengenyangkan ini. Kami menemukan mu sewaktu bapak dalam perjalanan menuju lokasi bencana. Kamu terseret arus sungai ketika saya hendak membasuh muka. Tadinya kami ingin membawa mu ke rumah sakit" sebelum melanjutkan kata-katanya kembali ibu mengambilkan ayam goreng sambil tersenyum. Aku hanya menganggukkan kepalaku mendengar cerita dari ibu "Tapi kami mengambil keputusan untuk merawatmu di rumah, jika memang keadaaan tidak membaik baru kami akan membawamu kerumah sakit. Karena kami sendiri pada saat itu tidak tahu siapa namamu."
Aku tidak banyak mengatakan apapun juga hanya satu kata teringat di dalam pikiranku "Terimakasih Ibu"
........................................................................
1....
Puing-puing bekas bencana itu masih ada. Hanya diam membisu entah memandangi seluruh bangunan yang sudah rata dengan tanah. Kalau saja ku ingat kejadian banjir bandang yang telah memporak-porandakan hampir seluruh rumah di satu kecamatan ini rasanya air mata ini tidak bisa ku hentikan. Aku pun hampir tidak ingat di mana letak rumahku saat ini.
Angin berhembus sangat kencang sekali, hingga menusuk semua nadi yang berdenyut menyelusuri nafasku. Sesuatu yang menyentuh punggung tanganku, angin yang membawakan ini untukku. Ku ambil secarik kertas itu yang hampir melayang kembali karena angin. Ah...... air mata ku kembali berurai ketika terlihat foto ayah, ibu dan adikku yang masih utuh. Sudah 1 minggu setelah bencana itu aku sudah tidak pernah tahu keberadaan mereka.
Setiap hari aku ke lokasi ini untuk mengetahui jejak yang terpisah barangkali ada setiap tumpukan mayat yang baru saja di temukan terdapat salah satu keluargaku. Tetapi hingga sudah 7 hari sejak kejadian tidak di temukan keberadaan mereka. Menjadi tanda tanya dalam untuk kehidupan ku selanjutnya apakah keluargaku sebenarnya masih ada?
Air mata kembali perlahan membasahi wajahku yang setiap kali aku hapus kembali.
Bahkan langkah kaki ini sangat berat untuk ku pijakkan di atas bumi yang sudah tidak ingin ku kenal lagi. Aku tidak tahu kemana angin akan membawaku hidupku selanjutnya.
Ah biarkan angin yang meruntuhkan langkah kaki ini..... Ku pandangi langit yang hampir pekat menghitam... sebentar lagi hujan akan datang. Bisiku dalam hati. Aku harus kembali ke tempat sementara ku.
Penampungan yang di tempati ratusan pengungsi ini benar-benar membuatku jengah dan ingin melepaskan semua tali ini. Aku hampir tidak mengenal sesama orang di pengungsi ini. Semua serba terbatas disini. Ketika ku bayangkan kembali bagaimana kehidupan kami dahulu yang serba kecukupan sekarang ku harus terbiasa di hadapkan dengan hal yang asing bagiku.
Bahkan untuk tidur pun aku sangat tidak nyaman, hanya beralas terpal yang sangat dinginya menusuk kulitku dan selalu saja ada bagian tubuh ini tertekan atau tersenggol dengan bagian tubuh orang yang setiap malam berganti-ganti. Dan setiap malam aku hampir tidak dapat untuk memejamkan mata yang bagiku begitu lelah untuk melihat dunia ini.
saat ini usiaku baru saja 11 tahun seharusnya bulan depan aku harus masuk babak kehidupan baruku dimana meninggalkan bangku sekolah dasar dan seharusnya aku mesti melanjutkan ke satu tahap yang lebih tinggi lagi....
Saat ini dan malam ini aku harus putuskan untuk merengkuh mimpiku... atau tidak sama sekali.... aku ingin keluar dari tempat yang membuat ku tidak nyaman ini..... aku ingin membuat hidupku lebih baik lagi... aku ingin merubah ini semua........
Ku ingin menjadi kan nyata untuk setiap langkah ini..... memilih untuk meninggalkan tempat ini adalah langkah pertamaku......
Angin berhembus sangat kencang sekali, hingga menusuk semua nadi yang berdenyut menyelusuri nafasku. Sesuatu yang menyentuh punggung tanganku, angin yang membawakan ini untukku. Ku ambil secarik kertas itu yang hampir melayang kembali karena angin. Ah...... air mata ku kembali berurai ketika terlihat foto ayah, ibu dan adikku yang masih utuh. Sudah 1 minggu setelah bencana itu aku sudah tidak pernah tahu keberadaan mereka.
Setiap hari aku ke lokasi ini untuk mengetahui jejak yang terpisah barangkali ada setiap tumpukan mayat yang baru saja di temukan terdapat salah satu keluargaku. Tetapi hingga sudah 7 hari sejak kejadian tidak di temukan keberadaan mereka. Menjadi tanda tanya dalam untuk kehidupan ku selanjutnya apakah keluargaku sebenarnya masih ada?
Air mata kembali perlahan membasahi wajahku yang setiap kali aku hapus kembali.
Bahkan langkah kaki ini sangat berat untuk ku pijakkan di atas bumi yang sudah tidak ingin ku kenal lagi. Aku tidak tahu kemana angin akan membawaku hidupku selanjutnya.
Ah biarkan angin yang meruntuhkan langkah kaki ini..... Ku pandangi langit yang hampir pekat menghitam... sebentar lagi hujan akan datang. Bisiku dalam hati. Aku harus kembali ke tempat sementara ku.
Penampungan yang di tempati ratusan pengungsi ini benar-benar membuatku jengah dan ingin melepaskan semua tali ini. Aku hampir tidak mengenal sesama orang di pengungsi ini. Semua serba terbatas disini. Ketika ku bayangkan kembali bagaimana kehidupan kami dahulu yang serba kecukupan sekarang ku harus terbiasa di hadapkan dengan hal yang asing bagiku.
Bahkan untuk tidur pun aku sangat tidak nyaman, hanya beralas terpal yang sangat dinginya menusuk kulitku dan selalu saja ada bagian tubuh ini tertekan atau tersenggol dengan bagian tubuh orang yang setiap malam berganti-ganti. Dan setiap malam aku hampir tidak dapat untuk memejamkan mata yang bagiku begitu lelah untuk melihat dunia ini.
saat ini usiaku baru saja 11 tahun seharusnya bulan depan aku harus masuk babak kehidupan baruku dimana meninggalkan bangku sekolah dasar dan seharusnya aku mesti melanjutkan ke satu tahap yang lebih tinggi lagi....
Saat ini dan malam ini aku harus putuskan untuk merengkuh mimpiku... atau tidak sama sekali.... aku ingin keluar dari tempat yang membuat ku tidak nyaman ini..... aku ingin membuat hidupku lebih baik lagi... aku ingin merubah ini semua........
Ku ingin menjadi kan nyata untuk setiap langkah ini..... memilih untuk meninggalkan tempat ini adalah langkah pertamaku......
Selasa, 05 Oktober 2010
“Wow” terjebaknya otak tengah
Akhir-akhir ini banyak sekali diperbincangkan tentang otak tengah. Yah begitu menakjubkan seketika apa yang di janjikan oleh otak tengah dapat bermanfaat dengan baik. Banyak hal-hal yang secara logika susah dapat di ambil kesimpulan seperti ketika dapat melakukan apapun dengan menutup mata sebagai contoh menggambar, membaca, dan berjalan. Kita akan berteriak “wow” untuk setiap kegiatan diatas yang dapat dikerjakan dengan otak tengah. Efek sementara ini begitu menakjubkan di luar dugaan otak kita berstimulus bahwa otak tengah begitu menganggumkan.
Efek “wow” yang hanya sekejap ini apakah dapat dimanfaatkan ketika seseorang mengalami masalah? Apakah otak tengah berfungsi dengan baik? Atau ketika kita mengerjakan soal matematika yang sangat sulit, apa dengan mata tertutup saja kita dapat dengan mudah mengerjakan soal logika matematika?. Atau apakah otak tengah dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan rasa kreativitas seseorang hanya dengan mengandalkan mata tertutup. Bagaimana kreativitas terbangun hanya dengan menutupkan mata lalu otak kita mulai terpacu kreativitasnya? Rasanya ini menjadi sulit diterjemahkan secara nalar. Sadarkah diantara kita bahwa efek “wow” adalah begitu menganggumkannya ketika semua dapat dilakukan dengan mata tertutup tetapi mengesampingkan segala akibat bahwa kita akan terlena dengan manfaat dari otak tengah sehingga otak kiri dan kanan tidak lagi di gunakan kembali.
Begitu menakjubkannya sehingga banyak orang tua yang lebih memihak kepada otak tengah dan menginvestasikan puluhan juta anaknya untuk dapat mempelajari kegunaan dari otak tengah. Apakah dengan menginvestasikan puluhan juta dapat memintarkan anak atau anda hanya terkena efek “wow” bukankah lebih baik ketika kita dapat menggunakan otak kanan dan kiri secara bersamaan? Bukankah lebih baik ketika seorang anak pintar dalam hal kreativitas atau logika dibandingkan pintar “menutup mata” lalu apakah orang tua menyadari semakin dia dapat menutup mata berarti ada nilai yang akan berkurang yaitu kemampuan bersosialisasi. Sadarkah bahwa suatu saat ketika telah memiliki kemampuan untuk melakukan apapun dengan mata tertutup dan tanpa disadari anak tersebut tidak lagi membutuhkan kemampuan untuk bersosialiasi.
Bukankah lebih baik ketika kita dapat menyeimbangkan kemampuan akademis dan kemampuan sosial? Dibandingkan hanya dengan memiliki kemampuan “Menutup Mata” lalu apa manfaat selanjutnya yang dapat di petik hanya dengan “menutup mata”? Hanya Andalah yang dapat menjawab pertanyaan itu.
Selasa, 31 Agustus 2010
Rencana Kerja VS Komitmen
Pernahkah Anda merasa bahwa perencanaan di tempat anda bekerja tidak berjalan dengan semestinya? Atau belum selesai rencana A tiba-tiba memunculkan rencana B? Dan jika rencana A mengalami kendala kemudian membatalkan rencana A.
Setelah mendapatkan rencana B dan rencana ini tidak berjalan kemudian memilih alternative kembali untuk Rencana C. Tapi ketika diketahui rencana C tidak baik kembali lagi ke Rencana B? Ketika kita berada di posisi tersebut dapatkah Anda memahami bahwa kita sedang mencoba untuk membuat sebuah komitmen dibalik sebuah rencana tersebut. Dan banyak orang yang akan di libatkan dalam setiap rencana kita, tentunya kita tidak ingin membuat mereka mengalami sebuah ketidak jelasan dalam merencanakan sesuatu, apalagi hal tersebut berkaitan dengan tujuan perusahaan.
Perencanaan untuk mencapai tujuan perusahaan yang optimal hendaknya didiskusikan terlebih dahulu karena rencana kerja menentukan strategi apa yang kita pakai demi kemajuan perusahaan. Ada Banyak hal yang dapat dilakukan untuk dapat membuat perencanaan membuahkan hasil yang optimal seperti:
1. Diskusikan terlebih dahulu kepada semua orang yang terlibat di dalam perencanaan tersebut.
2. Hendaknya setiap keputusan di buat bersama, bukan didasarkan atas pandangan pribadi akan kemajuan perusahaan.
3. Ingatlah selalu bahwa komitmen kita berpengaruh terhadap masalah yang di hadapi, jika kita merubah komitmen berarti merubah situasi yang telah di atur.
4. Jika alternative terakhir adalah merubah rencana sebaiknya memikirkan solusi yang terbaik dari perubahan rencana tersebut dengan menilai sisi keuntungan dan sisi kerugiannya.
5. Perencanaan yang baik adalah dengan mengatur 100 langkah kedepan dengan melihat dari keuntungan dan kerugian yang nanti akan dihadapi.
Semoga nantinya rencana kerja ini dapat berjalan semestinya sesuai dengan visi dan misi bersama dengan tidak mengindahkan komitmen.
Minggu, 15 Agustus 2010
Budaya Santun VS Lumpur Lapindo dalam aspek psikologis
Budaya santun yang khususnya diadopsi oleh budaya jawa yang banyak mencerminkan nilai-nilai pribadi yang baik kini tidak lagi bisa kita lihat. Apalagi suku jawa termasuk suku mayoritas di Negara Indonesia ini. Kejadian yang akhir-akhir ini diperbincangkan yaitu masalah Lumpur lapindo yang terjadi di sidoarjo secara perlahan-lahan tetapi pasti merusak budaya santun yang kita miliki khususnya Jawa. Setelah hampir 2 tahun menanggung penderitaan yang cukup berat dan penuh ketidak pastian, membuat budaya santun tergerus oleh arus Lumpur lapindo.
Luapan-luapan emosi yang terdiri dari beberapa desa yang sudah terendam oleh Lumpur lapindo kini terlihat jelas di wajah mereka, yang dulu nya penuh bersahaja. Setumpuk persoalan yang dihadapi,mulai ketidakjelasan pembayaran ganti rugi,lindapnya sejarah hidup karena tanah kelahiran lenyap, terlebih merasa terasing di pengungsian, membuat wajah-wajah kesederhanaan khas masyarakat desa luntur. Jangan heran ketika umpatan dan kata-kata kasar meloncat dari orang-orang yang merasa terkungkung di Pasar Baru Porong, sebuah kawasan yang selama ini dijadikan tempat pengungsian.Tidak jarang, kata-kata kasar itu keluar di hadapan anak-anak.Tak pelak, sejumlah anak di bawah umur semakin terbiasa dengan budaya kekerasan yang mulai menyeruak di tempat pengungsian. Budaya santun yang makin lama hilang dari seperti hilangnya desa mereka yang terendam Lumpur merambah ke factor kejiwaan.
Jika diamati sistem pengendalian sosial di jawa yang utama adalah menempatkan masyarakat beserta adat istiadatnya secara dominan yang menentukan arah perilaku individu-individu warganya. Kepentingan individu diserasikan secara harmonis dengan kepentingan kolektif atau masyarakat keseluruhan. Masyarakat jiwa dikatagorikan dalam sistem budaya yang mengutamakan nilai keserasian hidup kolektif. Perwujudan dari nilai keserasian hidup dapat dilihat dari praktek kerja bersama yang disebut gotong royong. Kerukunan bersama ini didasarkan oleh “emapat dasar sifat manusia” yaitu simpati, keramahan, keadilan dan kepentingan pribadi yang selaras dengan tatanan social menurut adat istiadat.
Berdasarkan cara berfikir tertentu, manusia jawa memandang nilai hormat dan rukun memiliki makna amat penting dan berharga dalam interaksi dengan sesamanya. Rukun adalah suasana yang dicita-citakan dan diharapkan dapat dipertahankan dalam hubungan social seperti, keluarga, kelompok, komunitas kampong, desa dan kota . Ketika nilai hormat dan rukun dapat dipraktekan maka akan dapat dicapai suasana harmonis, seimbang dan selamat. Suasana selamat adalah keadaan psikologis ketentraman batin yang tenang. Semua prose situ dilandasi oleh nilai-nilai luhur dalam ungkapan jawan yang berbunyi sepi ing pamrih, rame in gawe, mamayu hayuning bawana dalam artian “menjadi bebas dengan kepentingan sendiri, melakukan kewajiban-kewajibannya, memperindah dunia” diterjemahkan oleh Frans Magnis Suseno (1988:38). Agar dapat menjalankan nilai luhur ini, menurut orang jawa di reformulasikan oleh Magnis Suseno (1988: 139-159) orang harus melalui dalil empat sikap yaitu :
- Sikap batin yang tepat
Sikap batin yang tepat dapat diartikan sebagai cara berfikir yang benar dan direalisasikan melalui proses mawas diri yaitu sikap batin untuk intropeksi keadaan diri individu itu sendiri. Hasilnya ialah sikap jawa yang waspada, suatu keadaan yang selalu siap menghadapi segala sesuatu yang mungkin terjadi dan kondisi eling keadaan selalu ingat akan keberadaan dirinya sebagai mahkluk ciptaan tuhan. Orang jawa wajib selalu sadar dari mana asal-usulnya, kewajiban apa yang harus dilakukan, dan kemana arah tujuan hidupnya.
- Tindakan Yang tepat
Sikap batin yang tepat menentukan tindakan yang tepat adalah perwujudan dari ungkapan rame ing gawe atau dharma yang berarti rajin bekerja menjalani kewajiban untuk kepentingan keseluruhan masyarakat yaitu, bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan kesejahteraan manusia pada umumnya. Manakala banyak orang yang telah mampu mawas diri artinya memiliki sikap bathin yang tepat dengan sendirinya orang itu telah bekerja menjalanlankan kewajibannya.
- Tempat yang tepat
Begitu manusia jawa mampu bertindak secara benar berarti ia telah memenuhi kewajiban tugas hidupnya. Tindak tanduk yang ia lakukan merupakan kewajiban social yang sitentukan oleh lingkungan social yang di tempati
- Pengertian yang tepat
Kemampuan manusia untuk memahami bagaimana ia harus bersikap batin yang tepat, bagaimana ia harus bertindak dengan benar, dan dimana ia harus menempatkan diri secara tepat dalam struktur hubungan-hubungan social dengan keselarasan lingkungan alam.
Dua Macam Reaksi Traumatis
Peristiwa traumatis seperti tsunami, lumpur,perkosaan,tabrakan,dan kebakaran hebat biasa mengakibatkan dua macam reaksi psikis. Dalam Diagnostic and Statistical Ma-nual of Mental Disorders (1997), tercatat dua disorders atau kelainan psikis yang diakibatkan antara lain oleh peristiwa traumatis. Yang pertama adalah posttraumatic stress disorder (PTSD) atau kelainan psikis pascatrauma dan kedua adalah acute stress disorder (ASD) atau kelainan psikis akut. Kendati demikian, mayoritas peneliti dan praktisioner seperti mereka di Pusat Kesehatan, New South Wales, Australia (2000) lebih mengutamakan PTSD daripada ASD.Masa berlangsung ASD hanya dua hari sampai satu bulan. Setelah itu, derita psikis akibat peristiwa traumatis itu beralih menjadi PTSD.
ASD sering diabaikan para praktisioner dalam diagnosis karena–– selain masa berlangsung ASD singkat––kedua-duanya selalu didahului oleh gejala umum yang disebut posttraumatic stress reactions (PTSR). Jadi, ASD ”terjepit” antara PTSR dan PTSD. Berliner dan Brier (1999) melalui artikel ”Trauma, memory, and clinical practice” mensinyalir bahwa para korban bisa mengalami brief psychotic disorder( BPD) atau kelainan psikotik yang berdurasi antara satu sampai 30 hari.
PTSR Berlanjut ke Lingkaran Setan
PTSR sebenarnya merupakan gejala umum dan normal dialami setiap orang yang mengalami peristiwa traumatis. PSTR itu terjadi segera setelah peristiwa traumatis berlangsung. Reaksi traumatis di atas dialami hampir setiap korban. Namun, jangan sampai reaksi normal ini berlanjut ke tiga gejala stres yang disebut gejala PTSD. Dalam kasus korban tsunami di Aceh, dalam penelitian tahun lalu penulis menemu-kan bahwa seperempat dari populasi mengalami gejala-gejala tersebut.Banyak penelitian sebelumnya tentang bencana juga me-nemukan angka persentase serupa.
Orang bisa membayangkan bahwa 5.250 dari 21.000 korban lumpur itu akan mengalami lingkaran setan ini jika tidak ditangani dengan tepat. Gejala pertama dari lingkaran setan PTSD adalah ”mengalami kembali” peristiwa tragis itu (re-experiencing). Pengalaman kembali itu sebenarnya lebih bersifat kognitif, yaitu korban itu mengenang kembali derita akibat peristiwa itu. Jika melihat pemicu seperti banjir,becek,air mancur,berita tentang lumpur Lapindo, maka pikiran penderita bergejolak tak keruan. Ia lalu menjadi gelisah. Mengatasi kegelisahan, ia berusaha menghindari (avoidance) gejolak pikiran. Macam-macam upaya dilakukan untuk menghindar dari pikiran kusut. Masalahnya, semakin dihindari, pikiran itu justru semakin mengganggu. Untuk gejala kedua yaitu avoidance of stimuli adalah upaya menghindar yang menetap terhadap hal-hal yang mengingatkan pada peristiwa traumatik dan penumpulan respons terhadap stimulus tersebut.
Gejala ketiga yang disebut hyperarausal alias reaksi spontan berlebihan. Menurut J Jones dan D Barlow (1990),gejala ini sebenarnya merupakan alarm tanda peringatan bagi korban akan adanya pemicu (trigger) atau munculnya gejolak pikiran (reexperiencing). Saat muncul hyperarausal, korban lalu beralih ke mekanisme avoidance. Hyperarausal bisa berbentuk insomnia (susah tidur), waswas, degdegan, latah (tindakan tiba-tiba tanpa pikir panjang).
Untuk dapat menegakkan diagnosis PTSD, simtom-simtom tersebut harus muncul setidaknya 1 bulan setelah terjadi peristiwa traumatic.
Sudut Pandang Psikologis
Ahli psikologi behavioristik berpendapat bahwa PTSD muncul karena adanya proses belajar melalui kondisioning klasik terhadap rasa takut. Sedangkan teori psikodinamika yang dikemukan oleh Horowitz (1986) menyebutkan ingatan tentang peristiwa traumatic muncul secara konstan pada pemikiran seseorang dan sangat menyakitkan sehingga mereka secara sadar menekannya (supresi) atau merepresnya
Langganan:
Postingan (Atom)



