Cari Blog Ini

Selamat datang di Inspirasiku

Realisasi Mimpi = Doa +Optimis + Positif Thingking+ Usaha + Mental Baja :)

Rabu, 18 Mei 2011

Karena Saya yang Memilih





Saya telah memilih jalan untuk memiliki dendam kepada beberapa orang yang memiliki andil merusak hidup ini. Apa yang saya rasakan ketika itu adalah saya terus memikirkan kejadian-kejadian yang tidak membuat saya bahagia, hingga tanpa saya sadari saya telah mengeluarkan begitu banyak airmata hanya dengan memikirkannya. Lalu apa saja yang saya lakukan pada saat itu? Waktu saya banyak tersita untuk memikirkan hal-hal yang tersebut. Sehingga segala pekerjaan terhambat untuk melakukan sesuatu, tak hanya itu saja bahkan saya tak jarang sering sekali meluapkan segala kemarahan kepada siapapun ketika keadaan tidak stabil.
Hingga pada taraf saya membenci diri saya sendiri. Bahkan ketika saya menghadap ke cermin lalu mengatakan “siapakah saya sebenarnya?” “beginikah hidup yang saya inginkan?” cermin tidak mengatakan apa-apa untuk berubah, cermin hanya mengatakan bahwa betapa buruknya hati ini. Hingga hati ini sesungguhnya mengajukan pertanyaan sendiri “Apa yang saya inginkan sebenarnya?” Jelas saya menginginkan hidup ini bahagia. Dan  mengapa pikiran ini tidak pernah bisa hilang? Karena hati ini sebenarnya yang harus diperbaiki, hati ini meminta untuk memikirkan hal-hal tersebut.
Hati ini telah terluka sangat dalam, sungguh tak akan pernah mudah menghilangkan bekas-bekas luka tersebut. Kalo saja ada bengkel hati mungkin saya akan mereparasi ulang hati ini hingga luka tersebut dapat hilang. Jika saya memiliki bengkel hati, pasti hidup ini akan menjadi bahagia. Karena saya bisa memilih kapan saya bisa akan mereparasi hati ini.
Lalu apakah saya akan hidup dengan keadaan seperti ini terus?  Tidak semua orang pasti ingin bahagia begitu juga saya. Dan akhirnya keputusan terbesar dalam hidup saya dibuat di hari ini bahwa keputusan saya adalah bahagia dan dapat menikmati setiap detik hidup ini. Saya juga tak pernah ingin melewatkan setiap detik pun kebahagian tersebut.
Detik ini juga saya ambil kembali cermin tersebut dan tersenyum kepada senyum tersebut “Hay cermin inilah diri saya kembali dengan lahir kembali menjadi yang baru” Lalu apa kata cermin kepada saya “Kau belum menunjukkan sesuatu yang baru padaku” Mungkin benar sebuah jawaban saya temukan bahwa saya belum menunjukkan perubahan jika saya tidak melakukan apa-apa terhadap apapun juga.
Dan hari ini saya juga melakukan apa yang tidak biasa saya lakukan yaitu dengan membuka lembaran baru yaitu dengan memaafkan orang yang melukai saya, saya katakan dahulu kepada mereka bahwa saya yang telah memaafkan hati saya untuk kepada mereka. Hidup ini menjadi ringan ketika kita memiliki kesanggupan untuk memberikan maaf kepada orang-orang yang telah melukai hati kita walaupun belum pernah ada permintaan dari mereka. Tetapi ketahuilah dengan memaafkan dengan ikhlas dan tulus membuat hidup ini menjadi sangat nyaman dan ringan. Keringanan hidup ini yang sebenarnya akan membukan jalan kebahagian. Karena sebenarnya jalan kebahagian itu tertutup oleh kita sendiri, kita tak pernah mengetahui bagaimana membuka jalan kebahagian itu jika hati ini masih diliputi oleh rasa sakit hati dan dendam.
Untuk itu kebahagian itu sebenarnya telah ada dari diri kita sendiri, jika kita tidak pernah merasakan  kebahagian dan tidak bisa menikmati hidup adalah karena sebenarnya kita sendiri yang tak pernah bisa melihat jalan kebahagian itu. Mata ini telah menutup pergerakan seluruh tubuh sehingga tak pernah bisa melihat jalan kebahagian yang sebenarnya jalan tersebut ada di depan mata kita.


Senin, 16 Mei 2011

Karena saya tidak ingin Gagal





“Tapi, saya tak memiliki bakat dalam pekerjaan ini” jawabnya ketika saya menyarankanya untuk coba untuk melakukan pekerjaan yang saya tawarkan kepadanya. Saya hanya berpikir untuk mencoba membantunya dan memberikan pekerjaan yang sudah dipikirkan bahwa pekerjaan tersebut memang layak untuknya. Sehingga saya mengajukan kembali pertanyaan kembali “Katakanlah kepada saya, apakah sebenarnya kau khawatirkan kalau tak mampu melakukan pekerjaan tersebut” Dia berhenti sejenak dan ragu akan jawabanya “Hmm, iya jujur saya tidak pernah mencoba pekerjaan tersebut.” saya kemudian tersenyum kepadanya dan berusaha untuk menyakinkan dirinya “Jika kau tak pernah mencoba sesuatu hal yang baru, bagaimana mungkin kau bisa memastikan bahwa ini bukan bakatmu”
Dari contoh di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kita tak pernah tahu dimana kapasitas kemampuan kita di wilayah yang baru jika kita sendiri tak pernah untuk mencobanya. Lalu bagaimana sebenarnya kita mengukur bisa atau tidaknya jika kita takut untuk mencobanya.
Sejujurnya didalam diri seseorang jika ada perasaan untuk takut untuk mencobanya berarti kita sendiri yang merencanakan sebuah kegagalan. Sebenarnya kita sendiri tak pernah menyadari bahwa rencana kegagalan sebenarnya adalah skema dalam pikiran ini.
Skema kegagalan yang kita miliki terlalu erat sehingga terkadang sulit sekali memikirkan bahwa sesungguhnya pikiran ini hanyalah rasa ketakutan yang semestinya harus dimusnahkan. Dari awal kitalah sebenarnya yang merencanakan kegagalan hingga pikiran ini tidak pernah diberi kesempatan untuk mencoba hal-hal yang baru-baru sedikitpun.
Rencana kegagalan menyebabkan blokir didalam pikiran positif masuk kedalamnya. Sehingga tak ada yang bisa memanggil hawa positif masuk dalam pikiran ini sehingga mengalahkan hawa negatifnya. Lalu bisakah kita membuka blokirnya yang sebenarnya kita yang menciptakan sendiri. Kita hanya membutuhkan sebuah kunci untuk blokirnya.
Satu-satunya kunci yang bisa membukanya adalah dengan membuat sinyal kedalam pikiran kita untuk bertindak dan mengambil keputusan bahwa “saya harus mencoba melakukan hal tersebut” kunci yang bisa membuka pikiran tersebut hingga tak pernah lagi ada niat kembali untuk memikirkan hal-hal yang menyangkut kegagalan. Jika kita sendiri memikirkan kegagalan berarti rencana awal kegagalan sudah berhasil di ciptakan. Jangan biarkan kita sendiri justru yang menciptakan kegagalan. Cobalah untuk menyakini bahwa kita memiliki kemampuan yang sangat luar biasa untuk mencoba sesuatu hal yang baru, teruslah berpikir dan menyakini bahwa sesungguhnya kita memiliki kesanggupan dalam menghadapi tantangan apapun. Sehingga dengan sendiri energy positif masuk kedalam pikiran ini dengan bebasnya dan menentang segala hal yang akan memblokir pikiran kita.
Kesempatan pertama sudah dimiliki, yaitu bagaimana kita sendiri yang diberi kesempatan dan peluang dalam mencoba hal-hal yang baru. Segala konsekuensi adalah miliki kita sehingga apabila ketika kita memilih keberhasilan karena sesungguhnya kita yang merencanakan keberhasilan. Untuk itu rubahlah cara berpikir kita dalam memandang sesuatu hal yang baru. Hindari perasaan ketakutan dan kekhawatiran dengan sebuah kata yaitu kegagalan.


Kebahagian adalah pilihan





“Hay hati terkadang saya merasa bahwa kau sulit sekali untuk bersih. Terkadang saya juga merasa kau kotor.” Itulah yang saya ucapkan ketika saya masih memikirkan hal-hal negative terhadap seseorang sehingga menimbulkan penyakit baru yaitu kebencian terhadap orang tersebut. Tak hanya itu saya bahkan memiliki rasa keegoisme yang cukup tinggi sehingga terkadang sungguh saya sangat tersiksa sekali dengan perasaan ini. Saya juga tak memiliki kebahagian, saya tak pernah mendapatkan kebahagian yang saya impikan. Saya juga tidak bisa tertawa dengan lepas semua tawa saya adalah tawa kebencian. “Hay hati saya juga ingin bahagia, lalu bagaimana saya bisa bahagia” seperti saya pernah katakan hidup adalah pilihan ketika saya tidak bahagia  pada saat itu sesungguhnya sayalah yang memilih diri saya untuk tidak bahagia.
Lalu bagaimana mungkin saya memilih ketidakbahagian, tidak ada satu orang pun yang menginginkan ketidak bahagian. Kalimat diatas merupakan suatu nilai yang benar, tidak ada satu orang pun yang menginginkan ketidak bahagian. Tetapi hati kita yang memilih jalan itu, jika saat ini hati ini masih kotor kenapa tidak coba untuk dibersihkan dengan nilai-nilai positif. Jika di hari ini kita memiliki kebencian terhadap orang-orang di sekitar mengapa sekarang ini kita masih memelihara kebencian tersebut.
Sampai kapan kita akan memilihara kebencian tersebut? Lalu siapa yang rugi dengan kebencian tersebut? Orang yang kita benci atau kita? Pernahkah pertanyaan itu terpikirkan untuk hati ini? yah pasti kita rugi orang kita benci tidak merasakan kerugian. Mengapa sifat yang merugikan tersebut masih terus dipelihara.
Buanglah penyakit tersebut jauh-jauh sehingga kali ini kita dapat untuk mendamaikan hati ini. Penyakit tersebut merupakan kesukaan setan-setan dalam pikiran tersebut. Sekarang tugas kita sekarang ini jangan biarkan setan-setan berkeliaran dalam pikiran kita sehingga mempengaruhi hati ini untuk memilihara kebencian dan semua rasa sakit hati.
Bicaralah kepada setan-setan dalam pikiran kita untuk berdiam sejenak agar mampu kita kuasai sendiri. Jangan biarkan setan-setan dalam pikiran tersebut justru tak bisa terkendalikan. Kini kita bisa mengendalikan setan-setan tersebut. Maka ketika saat ini ketika kita sudah untuk memutuskan bahwa “Saya ingin bahagia” maka kini kita memiliki sebuah tugas untuk diri kita sendiri adalah bagaimana caranya menjinakkan semua penyakit-penyakit yang biasa disukai setan-setan itu.
Tentu kita tak pernah ingin memelihara penyakit yang bisa merusak hati ini. Karena dibalik semua ini justru kita lah yang terluka dan tersakiti karena memupuk semua rasa kebencian yang tiada henti. Mulai sekarang coba untuk katakan kepada pikiran kita “Saya ingin bahagia” dan munculkanlah bayangan kebahagian yang kita inginkan. Biarkanlah bayangan tersebut menjalar ke dalam pikiran ini sehingga saat ini kita telah mampu mengusai setan-setan yang merasuk ke dalam pikiran ini.
Sehingga kita lah yang sekarang mengendalikan setan-setan pikiran tersebut. Sekarang kita sudah memiliki kendali terhadap hidup ini, jika kita menginginkan hidup yang bahagia bagaimana caranya kita mengendalikan setan-setan pikiran adalah mempengaruhi kebahagian yang dimiliki. Untuk itu cobalah merenung seberapa jauh kita telah melibatkan setan-setan tersebut dalam pikiran kita.
Ketika setan sudah menguasai alam pikiran ini sehingga melibatkan hati ini jangan biarkan dia terus mengusai alam pikiran tersebut. Berikan ruang sedikit untuk sang malaikat bekerja lebih giat mengusai setan tersebut. Ini berarti ketika kita memutuskan untuk membenci orang tersebut berarti kita juga memutuskan untuk menggali lebih banyak lagi hal-hal yang positif yang terdapat pada orang tersebut.
Untuk mengalahkan setan-setan tersebut, saatnya kita harus mengenal lebih dalam lagi orang tersebut hal-hal yang terbaik dimiliki orang tersebut. Teruslah bayangkanlah hal-hal positif yang dimilikinya sehingga saat ini kita sebuah memunculkan malaikat-malaikat baru dalam pikiran kita. Dan tugas dari malaikat tersebut adalah bagaimana mendamaikan setan-setan yang kini menjalar dalam pikiran kita. Terus bayangkanlah kembali hal-hal positif yang telah dilakukan untuk kita.
Jika kita memang belum memunculkan hal-hal positif pada orang tersebut berarti tandanya adalah setan tersebut masih menguasai pikiran ini. Walaupun kita tidak pernah menyadari sisi positif yang ada pada orang yang kita benci tetapi ini merupakan sebuah keharusan untuk menertibkan segala pikiran kita agar setan tak pernah bisa menguasai pikiran kita. Jika kita memang menginginkan kebahagian, mulai sekarang berpikirlah positif terhadap hal-hal positif yang bisa dilakukan demi mencapai kebahagian tersebut.
Dan kali ini kita sudah mengatakan “Hay hati kini kau telah bersih kembali, akan saya pertahankan hati ini biar tetap bersih. Karena saya sesungguhnya menginginkan kebahagian”




Kamis, 12 Mei 2011

Kedisiplinan yang berkomitmen




Salah satu faktor penentu keberhasilan adalah sebuah sikap disiplin terhadap diri sendiri. Pernahkah kita bercermin berapa persen dalam hidup ini hal-hal yang sudah kita lalaikan.
Lihatlah dari hal yang terkecil terlebih dahulu, hal-hal apa saja yang terpikirkan  namun justru kita sendiri yang mengabaikanya? Lalu mulailah perhatikan dampak hal-hal terkecil tersebut bagaimana dampaknya untuk sesuatu hal yang lebih besar? Padahal hal yang paling baik untuk memulai sesuatu yang lebih besar adalah memulai hal yang lebih kecil. Tetapi terkadang untuk memulai hal yang lebih kecil kita mengabaikan waktu dan skala prioritas. Sehingga semua rencana yang sudah dibuat rapi menjadi sangat berantakan.
Salah satu kendala yang kita rasakan adalah sikap disiplin yang belum mampu untuk dipertahankan hingga di titik akhir. Ketika komitmen diawal mengatakan “Mulai detik ini saya akan disiplin” tetapi ketika berada di titik tengah berpindah haluan sehingga mengabaikan semua rasa kedisiplinan tersebut.
Kedisiplinan berhubungan erat dengan sebuah komitmen. Tak jarang orang mengatakan bahwa jika orang tak disiplin otomatis dia memiliki komitmen yang tinggi. Untuk itu perlu digarisbawahi untuk menumbuhkan tingkat kedisiplinan yang tinggi, komitmen terlebih dahulu di godok secara matang sehingga mampu mencapai tingkat tertingginya. Lalu bagaimana caranya untuk memiliki sebuah komitmen yang telah matang? Sebenarnya jawaban sangat sederhana untuk mewakili pertanyaan tersebut adalah ketahuilah bahwa komitmen terbentuk dari sebuah unsur kemauan untuk menuju perubahan.
Perubahan dalam hal ini bisa juga diartikan pencapaian keinginan. Ketika seseorang berkomitmen, maka dia menginginkan sesuatu entah itu perubahan atau pencapaian keinginanan.
Sekarang jika saya mempertanyakan kembali seberapa kuatkah keinginanmu? Tak jarang dari mereka mengatakan saya memiliki kemauan yang sangat kuat terhadap keinginan saya. Tetapi mereka tidak pernah meneliti seberapa besar komitmen mereka terhadap sebuah keinginan. Kemauan bukanlah sebuah komitmen.
Kemauan timbul dari hati, ketika hati tidak menginginkan sesuatu maka kemauan bisa bertolak dengan keinginan sedangkan sebuah komitmen memiliki rasa tanggung jawab.
Rasa tanggung jawab tersebut dapat diartikan bahwa mau tidak mau, suka tidak suka kita harus tetap fokus terhadap komitmen yang telah buat sendiri. Untuk keberhasilan dari keinginan dan perubahan haruslah didasari dengan daftar komitmen yang hendak dilakukan setiap harinya.
Buatlah daftar komitmen apa saja sanggup kita lakukan dan buatlah komitmen tersebut berdasarkan rasa tanggung jawab yang dimiliki. Dalam arti daftar komitmen tersebut tak hanya menjadi sebuah daftar saja yang jika suatu saat nanti kita tak akan pernah mengingatnya. Tetapi buatlah sebuah daftar komitmen yang memiliki nilai tanggung jawab terhadap sesuatu yang kita inginkan.
Untuk membuat sebuah daftar tersebut memiliki nilai tanggung jawab rasanya kita perlu membubuhkan sangsi-sangsi apa saja jika kita melanggar dari komitmen tersebut. Disamping sangsi kita juga harus membubuhkan penghargaan apa saja yang kita terima dari dan untuk diri sendiri jika telah berhasil untuk memenuhi komitmen tersebut. Hal ini perlu dilakukan untuk memperkuat nilai komitmen tersebut. Setiap poin harus diperiksa sedemikian rupa untuk merealisasikan rasa tanggung jawab yang dimilki.
Untuk memulai daftar komitmen tersebut diikuti dengan segenap kedisiplinan yang akan kita lakukan. Perlahan-lahan rasa disiplin tersebut mengikuti komitmen yang pernah kita buat. Sehingga untuk melaksakan nilai disiplin kita tak memiliki beban untuk pemenuhan atas rasa kedisiplinan tersebut. Beban tersebut terganti dengan sebuah tugas dari sisi komitmen.
Jika kedisiplinan tersebut mulai dengan mudah dapat terjalani maka saatnya kita untuk menembus puncak keberhasilan yang diinginkan.  Jika kita telah sanggup memiliki rasa kedisiplinan terhadap diri sendiri maka kita sebuah memiliki keinginan yang kuat untuk mempengaruhi orang lain terhadap kedisiplinan tersebut. 
Kedisiplinan dapat memberikan motivasi kepada orang lain untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Mulai sekarang tak ada lagi hal-hal kecil yang bisa melalaikan kedisiplinan tersebut karena kini kedisiplinan sudah menyatu didalam tubuh ini sehingga tak hanya hal-hal kecil saja mampu membuat diri ini menjadi disiplin hal-hal yang besar telah merubah sikap ini menjadi penuh kedisiplinan. Kini katakanlah terimakasih kepada komitmen yang kita miliki karena mampu merubah diri ini menjadi seseorang yang memiliki disiplin yang tinggi. “Terimakasih wahai komitmen ini, saat ini saya sudah menjadi orang yang memiliki disiplin yang tinggi”

Selasa, 10 Mei 2011

Penilaian Terbaik



Selain perkataan adakalanya sikap didalam diri ini harus memiliki keberanian untuk perubahan yang lebih baik lagi. Perubahan tersebut dilakukan tak hanya untuk menjaga hubungan sesama manusia tetapi perubahan tersebut untuk membuat hidup ini menjadi lebih bermakna lagi.
Jika kita mengkoreksi untuk hari ini saja, apakah kita memiliki sikap yang telah baik sehingga bisa membuat satu hari ini menjadi sangat bermakna? Ataukah justru sebaliknya sikap kita justru malah membuang waktu saja?
Cobalah untuk menilai diri sendiri adalah langkah yang terbaik untuk menuju perubahan yang terbaik. Jika kita masih saja menggantungkan orang lain untuk menilai sikap kita sendiri rasanya tak pernah menyadari bahwa kita memiliki kelemahan tidak bisa menilai diri sendiri. Padahal penilaian terhadap diri sendiri adalah senjata yang paling ampuh untuk terus melakukan perubahan-perubahan tersebut.
Pernahkah kita terpikir sikap sia-sia yang telah dilakukan hari ini? Atau kita sibuk untuk memikirkan nilai-nilai positif didalam diri ini? Segala sikap yang kita lakukan hari ini dapat mempengaruhi masa depan kita. Ataukah masihkah memiliki sikap “semua ini bukan salah saya” ? Tak jarang dari kita jarang sekali mengakui dan meminta maaf ketika melakukan sikap-sikap negative kita malah keasyikan dengan hal-hal yang terbaik yang pernah dilakukan. Saatnya untuk merubah mental positif didalam diri ini, jika nilai-nilai positif masuk secara sadar didalam tubuh ini maka sikap tersebut akan menyeimbangkan nilai-nilai positif tersebut.
Ingatlah bahwa segala perubahan yang dilakukan merupakan hal yang baik untuk memiliki nilai positif didalam diri ini. Janganlah pernah menyalahkan orang lain atas apa-apa yang tidak sesuai dalam pikiran ini tetapi cobalah untuk menilai seberapa saya telah melakukan hal terbaik untuk orang lain dan seberapa banyak saya sudah melakukan nilai negative yang menjatuhkan orang lain?
Untuk memudahkan kita menilai diri sendiri buatlah sebuah daftar sikap per harian untuk menilai apakah nilai yang dimiliki lebih banyak positif atau negative. Buatlah daftar sisi positif kepada siapa-siapa saja kita sudah berbuat baik dan sebalik kepada siapa saja kita sudah melakukan hal yang negative? Lalu ketika sudah mengetahui berapa banyak list daftar yang termasuk nilai positif dan negative lakukanlah perubahan untuk menuju ke arah yang lebih baik kepada orang-orang yang pernah kita sikapi dengan perilaku yang negative.
Mintalah masukkan kepada daftar orang-orang tersebut, kira-kira apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki sikap saya selama ini? Janganlah malu untuk meminta pendapat orang lain mengenai perbaikan apa saja yang harus dilakukan dan jangan pula malu untuk mengakui bahwa perilaku kita selama ini dipandang negative oleh beberapa orang.
Buatlah suatu komitmen antara kita dan beberapa orang tersebut untuk mengingatkan jika perilaku negative terulang kembali. Misalnya saja bisa dengan cara
“Tegurlah saya jika melakukan kesalahan, dan berikan nilai kepada saya untuk perbaikan saya selanjutnya” kelihatan hal ini sulit untuk dilakukan karena kita memiliki sebuah harga diri yang tinggi. Ada pula yang mengatakan “Buat apa saya lakukan ini, gengsi dong” cukup sulit untuk melakukan perubahan jika hal utama yang didahulukan hanya rasa gengsi semata. Apakah selama ini rasa gengsi tersebut bisa membuat masa depan menjadi baik. Apakah rasa gengsi tersebut dapat memperbaiki hubungan yang baik? Tidakkah kita sadari jika pikiran ini selalu dilingkarkan dengan rasa gengsi saja bisa saja perilaku yang selama ini negative menjadi positif dalam kacamata kita sendiri.
Lama-kelamaan kita tak pernah menyadari justru perilaku kita sendiri yang menjatuhkan masa depan yang diinginkan. Hingga pada suatu saat justru kita selalu menyalahkan orang lain terhadap masa depan yang tidak sesuai dengan harapan tersebut. Lalu bisakah kita berubah untuk sesuatu yang baik? Masihkah rasa egois dan gengsi ada didalam diri ini? Jawablah dengan keras “Ya, saya ingin berubah”. Ambilah sebuah buku catatan pribadi dan mulailah di hari ini untuk membuat daftar-daftar perilaku positif dan negative tersebut. Jika hal ini mampu dilakukan maka saat ini kita sudah berada di gerbang masa depan yang diinginkan. Karena membuka pintu gerbang tersebut adalah perilaku terbaik yang kita miliki.


Senin, 09 Mei 2011

Berkatalah dengan tujuan baik





Sering kali tanpa menyadari perkataan yang kita ucapkan sering menyakitkan orang lain sehingga membuat orang menjadi memandang negative kepada diri ini. Pernahkah kita menyadari hal demikian membuat orang-orang disekitar kita terluka dengan apa yang kita ucapkan. Atau justru sebaliknya saat kita masih bersikap masa bodoh dengan setiap kata yang terucapkan? Ada dua pilihan dalam berkata, apa ingin memberikan kesan positif atau justru sebaliknya negative? Dan banyak dari kita tanpa menyadarinya justru memilihnya untuk mengucapkan kata-kata negative yang justru hal ini menjatuhkan orang-orang disekitar kita.
Pernahkah terpikir suatu saat nanti kita berada didalam posisi yang mendapatkan kata negative? Cobalah untuk berpikir terbalik ketika berada diposisi yang tersakiti bagaimana perasaan yang terpikirkan? Mungkinkah mengalami rasa sakit hati sehingga menimbulkan luka-luka yang baru. Kemudian ketika orang tersebut memperbaiki menjadi kata positive satu-persatu luka-luka tersebut coba untuk hilangkan. Tapi ternyata tidak bisa luka tersebut memang sudah hilang, tetapi bekas luka tersebut masih ada.
Seribu kata positif yang coba kita terima ternyata tak mampu terbayarkan dengan satu kata negative. Apakah hal demikian ingin terjadi didalam diri ini? atau masihkah kita tak menghiraukan perasaan orang lain ketika ingin mengucapkan sesuatu?
Sekarang ini cobalah untuk memasangkan sebuah alat pengendali agar apa yang diucapkan tak mungkin menyakitin orang lain. Alat pengendali yang akan memberikan tanda untuk memberikan sinyal kepada apa yang diucapkan tak lagi kata-kata negative. Berapa lama waktu untuk menyembuhkan bekas luka tersebut sehingga membutuhkan waktu kembali untuk membangun kepercayaan antara kita dan dia untuk membangun kembali suatu hubungan.
Saat ini memang kita tak pernah menyadari telah berapa banyak orang yang tersakiti oleh setiap ucapan ini. Pernahkah kita menghitung berapa banyak orang yang tersakiti dengan apa yang kita ucapkan. Ketika kata negative telah terlontar kepada orang-orang disekitarnya rasanya kita memiliki tanggung jawab terhadap keberhasilan orang tersebut. Atau kita sendiri justru mengabaikan tanggung jawab tersebut sehingga tidak perduli ketika orang berusaha untuk mencapai tangga keberhasilan.
Dengan beberapa gambaran diatas jelas dapat disimpulkan bahwa kata-kata yang pernah kita ucapkan memiliki kekuatan yang menjatuhkan atau kekuatan motivasi untuk keberhasilan.
Untuk itu jika saat ini kita memiliki alat pengendali tersebut, maka alat pengendali secara otomatis akan memberitahu apa-apa yang memang tidak boleh diucapkan. Jangan biarkan seseorang memiliki bekas luka karena kita. Bekas luka tersebut akan sangat susah dihilangkan walaupun berusaha sekian kali untuk mengucapkan kata positing kepadanya. 
Untuk itu mulai sekarang juga berhati-hatilah dalam berkata-kata. Ingatlah kata-kata yang kita ucapkan dapat menentukan masa depan seseorang. Berkata-kata lah positif yang memiliki maksud dan tujuan yang baik. Dengan hal seperti ini berarti kita merupakan salah satu sumber keberhasilan orang tersebut.






Jumat, 06 Mei 2011

Kepercayaan diri menakjubkan




“Pernahkah kita merasakan ketakutan untuk melangkah?” setiap kali ingin melangkah satu kaki mengatakan ini tidak bisa. Dua kaki belum berpijak ditempat yang tepat sehingga setiap kali satu kaki ini hendak menaruh ke tempat yang pasti kaki yang satu menariknya kembali dan mengatakan “ini tidak bisa dilakukan” begitulah seterusnya hingga disuatu kita baru menyadari bahwa kita sebenarnya tidak melakukan apa-apa.
Perjalanan yang sangat sia-sia yang selalu diselimuti dengan rasa ketakutan dan kekhawatiran. Setiap kali ingin melangkah penuh perhitungan dan pertimbangan sehingga mengurungkan niat untuk maju kedepan. Sebenarnya apa seh masalah kita sebenarnya dengan hal ini? saya telah menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan tersebut yaitu kepercayaan diri.
Selama kita tidak pernah menemukan kepercayaan terhadap diri sendiri, tubuh ini hanya dilingkari dengan rasa kekhawatiran dan ketakutan yang tak bisa terkendali. Didalam pikiran memiliki banyak kemauan untuk mencobanya tetapi tanpa kepercayaan diri yang tumbuh dalam pikiran kita janganlah terlalu berharap untuk memiliki kemajuan terhadap kehidupan. Satu pertanyaan kembali kepada saya ketika saya memberikan masukan untuk seorang teman “lalu bagaimana jika ketrampilan yang saya miliki sebelumnya belum memadai untuk keinginan tersebut?” saya bertanya kembali kepadanya “Bagaimana bisa kamu berani untuk memiliki keinginan tersebut?” keberanian kamu untuk memiliki kemauan tersebut adalah sebuah contoh kepercayaan diri yang kita miliki hanya saja kepercayaan diri untuk bertindak belum sebanding dengan keberanian untuk menginginkan sesuatu.
Sebenarnya hal ini sama saja jika kita memiliki keberanian untuk memikirkannya kita pun harus memiliki keberanian untuk bertindak. Jika sudah berani untuk memikirkanya kita memiliki pikiran yang spektakuler untuk melakukan hal yang terbaik. Mengapa pikiran tersebut tidak dapat direalisasikan dalam sebuah tindakan? Jawaban yang sangat sederhana adalah kita sebenarnya sedang memelihara rasa ketakutan dan kekhawatiran yang sekarang ini rasa tersebut telah menyatu dengan diri ini sehingga dapat membahayakan perjalanan ini. Lalu apa yang sebenarnya kita takutkan adalah ketidakmampuan untuk menghadapi segala resiko yang sudah terbentang didepan mata ini.
Kita tahu resiko, karena kita memikirkan cobalah untuk tetap berjalan dan menutup mata menganggap tidak pernah tahu tentang segala resiko yang sudah menunggu didepan mata. Kepercayaan diri terhadap tingkat resiko perlu dimasukkan ke dalam pikiran ini. Perlahan-lahan tarik napas dalam-dalam dan buanglah perlahan-lahan kemudian bayangkan kita berjalan terus dengan sangat mulus dengan tertawa bahagia. Tersenyumlah jika itu yang diperlukan didalam perjalanan tersebut. Tertawalah jika hal ini bisa memberikan kepastian bahwa saya sanggup melakukan perjalanan ini. Lakukan hal ini berulang-ulang sehingga kita tidak perlu kembali memikirkan rasa ketakutan dan kekhawatiran itu.
Sekarang tingkatkan kepercayaan diri bahwa saya mampu melangkahkan kaki ini dengan sangat ringan dan ringan sekali. Sekarang langkah kaki ini tidak berat, saya mampu bebas melangkah dan melangkah menuju jalan-jalan yang sudah saya pilih.
Begitulah seterusnya ketika keberanian kita telah memiliki keberanian untuk memikirkanya maka kali ini kita telah memiliki keberanian tak hanya memikirkanya saja keberanian yang sangat menakjubkan yang membuat langkah kaki ini semakin ringan bahkan sangat ringan. Kemudian biarkan kepercayaan diri yang telah dimiliki menguasai tubuh ini sehingga ketika kita memiliki keinginan untuk melangkah hal ini menjadi sangat mudah dilakukan karena kita tidak pernah memiliki perasaan kekhawatiran dan ketakutan karena perasaan tersebut telah musnah dihapuskan oleh rasa kepercayaan diri yang luar biasa itu. Lakukan sekarang juga!