Cari Blog Ini

Selamat datang di Inspirasiku

Realisasi Mimpi = Doa +Optimis + Positif Thingking+ Usaha + Mental Baja :)

Senin, 20 Juni 2011

Manusia pembelajar yang baik






    Tidak pernah ada yang ingin melakukan kesalahan berkali-kali, tetapi terkadang diri ini lalai dalam mengingat kembali bahwa kita telah melakukan kesalahan lagi. Kita disibukkan dengan segala persoalan dan memikirkan jalan keluar terhadap sebuah masalah yang ada. Sehingga seolah-olah diri ini sibuk untuk melakukan sesuatu terhadap masalah tersebut. Tahukah kita bahwa sebenarnya telah membuang beberapa waktu untuk memahami masalah yang terjadi.
          Kita terkadang hanya membesarkan beberapa masalah yang terjadi didalam hidup ini hingga kesempatan untuk belajar dari kesalahan itu tak dapat diperoleh. Kesempatan itu telah hilang karena sesungguhnya kita yang mensia-siakan waktu yang diberikan untuk belajar sesuatu yang berharga.
          Sebenarnya manusia diciptakan dengan akal sehat yang sangat sempurna yang bisa digunakan sebagai pembelajar yang baik. Semua manusia adalah mahkluk yang sempurna, Jika Tuhan menciptakan beberapa kelemahan yang menutupi kesempurnaan manusia, tetapi Tuhan menciptakan keseimbangan dibalik kelemahan manusia yaitu menciptakan kelebihan. Sebagai contoh jika seseorang tidak dapat melihat, tetapi dia memiliki pendengaran yang sangat tajam. Jika seseorang tidak dapat melihat dan mengalami tuli, dia memiliki ketrampilan yang luar biasa dalam menghasilkan sebuah karya. Jika seseorang tidak memiliki kedua kaki tetapi dia memiliki prestasi yang luar biasa dalam bidang olahraga. Banyak sekali hal-hal yang unik yang bisa ditemukan dari setiap orang.
          Manusia adalah pembelajar yang baik jika manusia memiliki kelemahan, manusia tersebut memiliki insting untuk mencari kelebihan apa yang dimiliki olehnya. Begitu juga ketika seseorang mendapatkan masalah yang beratnya, sebenarnya manusia bisa memiliki insting untuk tidak melakukan kesalahan yang sama tetapi terkadang insting tersebut tidak dapat bekerja secara maksimal.
          Ketika masalah besar datang begitu saja kita belum siap untuk menerimanya sehingga segala daya dalam tubuh ini disibukkan dengan keadaan untuk menolak masalah-masalah yang datang. Penolakan terhadap masalah yang dilakukan adalah dengan cara menghindari masalah yang ada. Secara mental diri ini belum siap untuk menerima segala lidi-lidi masalah yang datang sehingga dalam diri ini belum terbentuk persepsi bahwa kita sebenarnya mampu keluar dari segala beban berat.
          Persepsi diri ini masih terfokuskan kepada beban yang berat yang nanti kita dialami.
          Misalnya ketika menghadapi sebuah masalah yaitu terlilit hutang hingga menghabiskan seluruh harta kekayaan seseorang, bahkan tak hanya itu saja Hutang tersebut harus segera dibayar segera mungkin dengan nilai yang tak sedikit. Setelah menghabiskan beberapa kekayaanya ternyata masih belum mencukupi untuk membayar semua hutangnya. Perkiraan dia sangat berat dan tidaklah mungkin untuk bisa membayarnya apalagi semua kekayaannya sudah habis begitu saja untuk menutupi semua hutangnya. Berkali-kali dia mencoba untuk mengakhiri hidupnya karena masalah hutang yang dihadapinya begitu berat. Tetapi niatan itu digagalkan dengan keinginanya yang masih mencari celah kehidupan.
          Seandainya saja dia berhasil mengakhiri hidupnya pada saat itu dia tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh pelajaran yang baru bagaimana memecahkan masalah dari belenggu hutang saat ini. Ketika kesempatan datang, kita dapat belajar dari kesalahan yang telah dilakukan. Ini terlihat ketika seseorang yang mempunyai hutang tersebut mulai menyelesaikan perlahan-lahan hutang-hutangnya. Ide-ide mulai muncul sebagai cara dalam penyelesaian hutang-hutangnya. Bahkan tak jarang kita temukan banyak sekali ide kreatif yang bisa digunakan ketika menangani masalah tersebut.
          Dia mampu menciptakan ide yang baru untuk menjual barang-barang daur ulang. Dengan cara seperti ini akhirnya dia mampu menyelesaikan hutang-hutangnya. Tak hanya itu saja bahkan dia mampu memonopoli pasar yang sangat jarang ini di luar negeri. Berkat hutangnya dia menjadi manusia yang luar biasa. Kalo saja sebuah masalah mengenai hutangnya pada saat itu tidak pernah ada mungkin sekarang ini dia tidak lagi menikmati hasil jerih payahnya selama ini.
          Sungguh luar biasa akal pikiran manusia jika mampu dipergunakan secara maksimal. Satu hal yang harus dipahami adalah kalo saja kita menerima masalah yang datang di dalam diri ini dengan suka cita dan mental yang sudah terbangun dengan sempurna kita akan siap menghadapi segala kemungkinan dan resiko yang nanti akan ada didepan mata.  
          Kita bisa menggunakan akal pikiran ini untuk bekerja keras menemukan berbagai jalan alternatif untuk menghadapi masalah-masalah yang datang. Satu catatan yang sangat berarti bahwa manusia adalah pembelajar yang baik, ketika mental kesiapan sudah terbentuk maka diri ini dapat dengan mudah menemukan setiap jalan yang ingin kita lakukan demi melepaskan ikatan yang kuat terhadap sebuah masalah.  
          Akhirnya dalam keadaan terdesak ide untuk menyelesaikan sebuah masalah dapat ditangani dengan sangat baik. Yakini didalam hati ini bahwa Ya benar sesungguhnya manusia adalah pembelajar yang baik.  

Jumat, 17 Juni 2011

Kegagalan membawa keberhasilan







Jika saat ini kita mengalami kegagalan janganlah berpikir bahwa selamanya diri ini akan semakin terpuruk, semakin kita terpuruk maka kita tidak pernah mengetahui dan merasakan bahwa ada sebuah jalan yang terang yang nanti membawa kita menuju gerbang kesuksesan. Jalan yang selama ini tidak pernah diketahui karena perasaan dan hati ini selalu merasakan bahwa kegagalan adalah sebuah bencana yang akan menghancurkan kehidupan.
          Kegagalan yang kita jadikan sebuah masalah yang baru, sehingga disibukkan dengan seluruh perasaan bersalah terhadap permasalahan yang terjadi. Hingga saat ini kita tidak pernah terbebaskan dari perasaan bersalah karena kegagalan tersebut. Semua mata telah tertutup dengan semua rasa kegagalan yang semakin menumbuhkan perasaan marah dan tidak ingin melakukan apapun juga.
          Pikiran ini telah menutup mata untuk melihat jalan yang terang. Padahal jalan yang terang akan membawa diri ini menuju keberhasilan yang diinginkan. Jika sekarang ini kita gagal melakukan sesuatu belum tentu keesokan hari kita akan gagal di kesalahan yang sama. Jika keesokan harinya kita mengalami kegagalan pula saat ini berarti kejadian mewajibkan diri ini untuk memperhatikan setiap kesalahan yang terjadi sehingga setelah berulang kali mencobanya kegagalan akan membawa pada kesuksesan.
          Seorang jenius menghasilkan sesuatu yang diinginkan pun telah mengalami kegagalan pula. Tahukah kita bahwa Thomas alva Edison baru mencoba lebih dari seribu kali baru menghasilkan sebuah lampu. Jika di tengah jalan dia menyerah begitu saja ketika telah melakukan percobaanya yang ke seribu maka dia tidak pernah menemukan titik keberhasilanya. Begitulah seterus jika saat ini kita merasakan bahwa saya mengalami kegagalan 10 x dan saya tak pernah ingin mencobanya kembali maka kita tidak pernah tahu bahwa percobaan yang ke 11 akan membawa kepada ke titik keberhasilan yang diingin.
          Hal ini demikian terjadi ketika berhadapan dengan sebuah masalah, seribu jalan sudah dicoba untuk menemukan jalan keluarnya tetapi saat itu belum ada keberhasilan dalam menemukan jalan terangnya. Jika saat itu kita berpikir untuk berhenti mencari jalan yang terang maka saat itu waktu yang tepat untuk diri ini dalam keterpurukan.  
          Selamanya jalan terang ini akan berhenti dan tak pernah di terlihat oleh pikiran ini. Jika satu kali saja kegagalan saja kita sudah mengeluh dan tidak pernah ingin mencoba kembali bagaimana saat ini menemukan jalan yang terang? Kenapa kita memiliki jiwa yang rapuh dan mudah menyerah? Bukankah setiap masalah yang berhasil terselesaikan dapat membuat jiwa ini menjadi lebih tegar dan berani.
          Jangan biarkan jiwa yang rapuh tersebut akan mempersulit langkah kita selanjutnya. Tanamkanlah kekuatan panyang menyerah didalam diri ini dan tanamkanlah kekuatan baja dalam pikiran ini agar saat menghadapi masalah dan menemukan jalan keluarnya tetapi kita mengalami kegagalan jiwa ini tidak pernah berputus asa untuk mencoba menemukan kembali.
          Tidak pernah ada kegagalan yang tidak menemukan keberhasilan Tampaknya banyak orang yang tidak pernah setuju dengan pendapat saya ini. Jika saya bertanya kembali mengapa mereka tidak menemukan keberhasilan? Ingatlah bahwa hidup ini memiliki dua sisi yang berbeda ada kegagalan namun juga ada keberhasilan. Tidak pernah kegagalan yang tidak ada keberhasilan. Jika mereka tidak menemukan keberhasilan karena kebanyakan dari mereka menghabiskan waktu mereka hanya untuk meratapi nasib dan jiwa putus asa.
          Mereka lelah dalam mencoba kembali, toh bagi mereka hanya kegagalan saja yang ada di depan mata. Mengapa tidak kita terapkan jika saja bahwa belum saatnya kita keberhasilan daripada kita hanya mengatakan “saya tidak pernah berhasil” . Saya menyakini pasti akan ada keberhasilan yang saya temukan dalam setiap kegagalan yang pernah saya lakukan. Hanya pada saat ini dua pilihan yang harus kita pilih, kita memilih untuk menyerah dan tak melakukan apa-apa atau memilih tetap maju sampai pada saat ini jalan terang itu kita dapatkan.
          Ingatlah selalu rumus kegagalan bahwa kegagalan pasti akan membawa kesuksesan sekarang tergantung kepada diri ini berapa lama kita sanggup mengalami kegagalan ini? Jika kita gagal terapkan dalam diri ini bahwa kita belum berhasil bukannya tidak berhasil. Waktu ini bukan waktu yang baik untuk diri ini, ini belum saat kita mencicipi aroma keberhasilan itu. Ingatlah cepat atau lambat pasti akan menemukan aroma keberhasilan yang diinginkan. Dan mengatakan “Ya, memang ada kegagalan dan keberhasilan”

Kamis, 16 Juni 2011

LIhatlah dasar permukaanya....






Lidi yang datang bersamaan dan akhirnya mengumpul menjadi satu layaknya sebuah sapu lidi. Tetapi hidup bukanlah sebuah sapu lidi, mengapa saya berkata demikian? Karena kita tak layak untuk membentuk lidi menjadi satu kesatuan hingga menjadi sapu. Sapu lidi hanya berguna ketika membersihkan hal-hal yang terlihat oleh mata, tetapi sapu lidi tidak berguna untuk membersihkan debu-debu yang tak dapat ditangkap oleh mata.
          Begitu juga masalah, ketika kita sudah membentuk sebagai sebuah sapu. Kita tidak pernah menyadari ada masalah didalamnya yang harus dibersihkan sedangkan sapu itu tidak mampu untuk membersihkan apa yang terjadi. Dia hanya membersihkan bagian atas yang memang terlihat dipermukaan sedangkan bagian bawahnya terdiam begitu saja. Sebagian dari kita hanya melihat masalah hanya pada permukaan saja, kita tidak bisa merasakan apa yang sebenarnya terjadi di dasar permukaan.
          Setiap masalah yang terjadi tidak pernah dilihat asal usul terjadi sebuah masalah sehingga membuat dasar permukaan ini mengendap dan membuat dasar permukaan tak pernah terlihat lagi. Sehingga selama ini kita hanya melihat permasalahan yang terlihat saja. Kita tidak pernah menyentuh apa yang ada didasarnya. Inilah kesalahan yang selalu terjadi dalam melihat permasalahan yang terjadi.
          Kita selalu menganggap masalah yang terjadi sudah selesai, tetapi sebenarnya  masalah yang ada didasar belum terusik sama sekali.
          Untuk penggambaran permasalahan yang sering terjadi sekarang ini mari  sama-sama coba bayangkanlah sebuah gunung es, di gunung es tersebut kita hanya bisa melihat bagian permukaan saja, tanpa bisa melihat dasar dalam gunung es tersebut. Kini hanya terpesona dengan pemandangan yang terlihat dengan mata ini. Tapi kita tidak pernah menyadari bahwa pada gunung es terdapat dasar yang lebih menakjubkan.
          Bagaimana melihat dasar es tersebut?Jika kita hanya terfokus pada permukaan gunung es, saat itu juga kita tidak pernah mengetahui bagaimana terbentuknya sebuah gunung es. Permukaan gunung es terbentuk karena terjadi pembentukan terlebih dahulu pada dasarnya. Begitu juga masalah? Masalah janganlah pernah dilihat pada permukaan kejadian saja, tetapi saat itu kita harus melihat bagaimana sebenarnya kejadiaanya sampai membentuk sebuah masalah yang baru. Dengan cara seperti itu memudahkan untuk menemukan jalan keluarnya karena kita telah menyentuh bagian dasarnya juga. Untuk menyelesaikan masalah yang terlihat cobalah menyelesaikan bagian yang tidak terlihat yang membentuk sebuah masalah. Apa yang terjadi ketika kita sibuk dengan permukaan gunung esnya saja?
          Permukaan masalah bisa mengecohkan sehingga akan menimbulkan gunung es berikutnya. Waktu yang dihabiskan terlalu lama hanya untuk melihat permukaan es tersebut. Tidak pernah berusaha untuk bagaimana melihat masalah yang terjadi sebenarnya. Dan ini akan membentuk dasar gunung es semakin kokoh sehingga ketika kita hanya berfokus pada permukaan saja. Hingga semakin lama kita tersadar bahwa mengapa permukaan masalah selalu terlihat kembali? Saat itu kita tidak pernah terpikir bagaimana bisa dasar es tersebut begitu kokohnya hingga susah sekali untuk dihancurkan.
          Lalu bagaimana saatnya untuk menghancurkan dasar es yang sudah terlanjur kokoh tersebut? saat ini cobalah untuk memikirkan kembali dengan cara mengingat kembali mengapa masalah tersebut terbentuk? Jika kita telah mampu menemukan jawaban tersebut maka perlahan-lahan telah menemukan sebuah kunci untuk menghancurkan dasarnya saja. Karena untuk menyelesaikan permasalahan yang terlihat cukup menghancurkan dasarnya. Ketika kita sudah mampu menghancurkan dasar es tersebut secara otomatis permukaan es tersebut tidak ada lagi. Tetapi ketika kita hanya menghancurkan permukaan saja, dasar es tersebut sama sekali tidak pernah tersentuh.
          Cobalah untuk melihat akar permasalahan yang terjadi sebenarnya? Karena dengan seperti ini kita tidak pernah membentuk sebuah gunung es karena dasar permasalahan tersebut kini sudah mampu di hancurkan. Hancurkan setiap masalah akan membentuk gunung es, sebelum terjadinya permukaan es kita bisa menghancurkan dasarnya. Begitulah cara bekerja dalam menangani permasalahan yang terlihat sangat berat.



Rabu, 15 Juni 2011

Jujur itu Penting






Dalam pembahasan sebelumnya kita sudah mengerti mengenai kesadaran untuk mengetahui masalah yang terjadi didalam diri sendiri. Tidak hanya kesadaran yang kita butuhkan untuk memberikan sinyal kepada diri ini bahwa memang terjadi masalah yang sekarang ini telah masuk dalam kehidupan kita. Hal yang harus diperhatikan terhadap masalah yang terjadi adalah kejujuran dalam memandang apa akar permasalahan yang terjadi? Didalam kenyataan seringkali kita menyalahkan arti dari kejujuran tersebut. Tak jarang dari kita bahkan seringkali menambahkan bumbu-bumbu dalam mendramatisir masalah yang terjadi.
          Hal ini memungkinkan terjadi untuk masalah yang sebenarnya sangat sederhana tetapi karena menyangkut masalah harga diri sering kali dengan kesengajaan menambahkan kalimat-kalimat yang memberikan efek dramatisir. Seolah-olah masalah yang dihadapin sekarang ini berat sekali. Biasanya hal ini dilakukan ketika kita menceritakan masalah dalam kehidupan ini dengan seseorang yang dipercaya.
          Dengan berbagi kepada orang lain membuat perasaan ini menjadi kosong dan sangat lega sehingga dapat merefresh kembali jalan pikiran ini. Tetapi apabila pada saat kita bercerita tentang apa yang terjadi dalam hidup ini, kita tak menghiraukan nilai kejujuran tersebut sesungguhnya saat itu kita sedang berhadapan dengan sebuah sosok yang menakutkan yang datang dari diri sendiri yaitu ketidakjujuran dalam memandang setiap masalah.
          Ketika kita bercerita untuk menarik banyak simpati dan empati dari lawan bicara sehingga kita membuat ketidak jujuran itu terjadi dalam kehidupan. Sehingga lawan bicara kita saat itu menganggap masalah yang kita hadapi sedemikian beratnya. Jika hal ini kita lakukan maka sesungguhnya tanpa kita sadari sendiri justru amunisi yang kita buat sempurna akan menyerang kembali. Amunisi tersebut adalah efek dramatisir yang terdapat dalam setiap kalimat. Pada saat itu kemungkinan besar memang “Ya” kita mendapat segala rasa simpati bahkan empati. Tetapi kita sesungguhnya tidak pernah menyadari efek dramatisir yang kita ciptakan pada saat itu akan membentuk sebuah persepsi yang baru.
          Awalnya masalah itu sangatlah sederhana dan memiliki jalan keluar yang sangat sederhana pula. Tetapi ketika itu kita berusaha meminta pendapat dan nasehat apa yang harus dilakukan terhadap masalah itu. Untuk mendapatkan rasa empati tersebut dengan sengaja memasukkan kalimat-kalimat yang mengundang perasaan tersebut sehingga pada akhirnya lawan bicara kita akan menganggap masalah yang dihadapi saat ini sangat berat. Lawan bicara kita akan meng “Iya” kan bahwa masalah yang kita hadapi berat.
          Padahal semua itu kita lakukan hanyalah untuk mendapatkan rasa empati saja. Tanpa kita sadari lama-kelaman ada beberapa pesan yang terkirim untuk alam pikiran ini dan menyatakan bahwa “Ini masalah yang berat” hingga menjadi rumit dan tak mudah dipecahkan. Dengan penggambaran diatas kejujuran menjadi nilai yang sangat penting dalam memandang setiap masalah. Lebih baik kita menghargai diri ini sendiri dengan nilai kejujuran dalam perasaan daripada mengharapkan perasaan empati dari setiap orang. Karena perasaan empati tersebut tidak selamanya memberikan kenyamanan untuk diri ini.
          Rasa empati dapat dijadikan amunisi yang mengancam kehidupan ini, jika saat ini masih terbelenggu dalam mengharapkan rasa empati tersebut. Tidak hanya nilai kejujuran dalam memandang masalah yang sebenarnya yang menjadi penting, tetapi nilai kejujuran dalam menyelesaikan masalah merupakan sesuatu yang bijaksana.
          Dan sekarang ini terapkanlah nilai kejujuran untuk diri ini sehingga kita dengan mudah dapat mematahkan lidi-lidi yang akan datang. Karena segala persiapan dari nilai kejujuran tersebut telah ada didalam diri ini.  



Selasa, 14 Juni 2011

Bersihkanlah masalahnya bukan orangnya



Adanya masalah tentunya sangat memungkinkan untuk memiliki masalah dengan orang lain. Sehingga banyak diantaranya pernah memiliki pengalaman yang tidak baik dengan orang yang pernah memiliki masalah.  Dan seringkali justru kita menciptakan masalah baru dengan membenci orang tersebut. Kita yang selalu mempersepsikan bahwa masalahnya adalah orang tersebut, dia memiliki masalah dengan kita.
          Jika memang Ya dia memang bermasalah dengan orangnya sesungguhnya saatnya ini langkah terbaik yang harus dilakukan adalah bersihkan masalahnya bukan orangnya. Karena sesungguhnya masalah yang menimbulkan lidi-lidi yang baru bukan orang tersebut. Jika kita menganalisa lebih dalam sebenarnya sering kali kita menyalahkan penyebab masalah yang telah terjadi adalah orang lain, padahal sesungguhnya akar kejadian yang sering kali adalah kita tidak pernah berfokus terhadap masalah yang terjadi. Tetapi fokus kita pada saat itu adalah orang yang menyebabkan masalah itu terjadi sehingga  tak jarang menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan terhadap orang itu. Terkadang muncul rasa kebencian yang mendalam dan sakit hati luar biasa karena pengalaman beberapa kejadian ini sehingga pikiran ini justru terselimuti oleh semua perasaan negative tersebut. Kita tidak pernah bisa membereskan masalahnya jika sasaran utama kita saat ini tidak tepat.
          Sasaran utama kita saat ini adalah selalu menyalahkan orang lain karena menjadi penyebab dari masalah yang dialami. Jika orang yang dijadikan sasaran utama, kita hanya terus menyibukkan diri untuk memperbaiki perasaan.
          Tidak mudah untuk memperbaiki perasaan apabila sudah terlanjur membenci dan menimbulkan rasa sakit hati terhadap orang tersebut. Sehingga sesungguhnya jika rasa ini sudah dialami ini menjadi pekerjaan yang baru untuk membuat perasaan dan hati ini bersih seperti sedia kala dimana kita mengenalnya. Memang hal ini tidak semudah dibayangkan, kita sudah terbiasa untuk menciptakan sasaran utamanya adalah orang.
          Misalnya ada masalah yang terjadi sekarang yaitu saat ini saya ingin sekali membuka usaha tiba-tiba teman saya mengajukan diri untuk membantu dalam perputaran modal saya. Tetapi dalam perputaran modal tersebut teman saya justru melarikan uang modal tersebut. Padahal modal tersebut dikumpulkan dengan segenap tenaga dan jerih payah saya bekerja bertahun-tahun hanya untuk keinginan membuka usaha dan menjadi seorang pengusaha yang handal. Tetapi teman saya sendiri justru mengambilnya dan melarikanya hanya dalam hitungan hari saja.
          Saya tidak pernah terpikirkan mengapa terjadi hal demikian? Pada saat ini saya membenci teman saya dan seluruh perasaan hingga pikiran terpusatkan pada satu yaitu orangnya. Perasaan dan pikiran saya justru saat ini sudah dikuasai oleh semua hal yang negative terhadap teman saya. Bahkan selama saya selalu menyibukkan diri untuk mencari tahu mengapa teman baik saya yang sudah saya anggap sebagai sahabat sendiri melakukan hal ini kepada saya? Saya selalu menghabiskan waktu saya hanya untuk memikirkan mengapa teman saya melakukan ini kepada saya?
          Semua daya dalam tubuh ini terpusat hanya kepada sasaran orang tersebut hingga melemahkan seluruh rencana yang sesungguhnya sudah saya rencanakaan untuk modal tersebut. Apa yang terjadi? Waktu ini hanya terbuang sia-sia hanya untuk memikirkan orang tersebut dan mengabaikan rencana semula yaitu membuka usaha.
          Kalau saja pada saat itu saya tidak lagi memikirkan mengapa dia melakukan hal ini? mungkin saya sudah memiliki rencana lain. Masalah yang harus kita benahi dalam masalah saya tersebut. Rencana awal yang telah dibuat sempurna menjadi rencana berikutnya karena satu sasasaran saya membuka usaha. Masalah saya adalah dengan tidak ada uang tersebut berarti saat ini saya tidak dapat membuka usaha.
          Nah, pada saat itu waktu saya hanya dihabiskan untuk memikirkan teman saya tanpa memikirkan rencana pengganti yang akan menggantikan rencana awal ini. Apa yang terjadi? Saat itu saya tidak sanggup untuk membuka usaha kembali karena seluruh daya didalam tubuh ini terlalu asyik untuk menfokuskan diri kepada teman saya.
          Padahal kalo saja pada saat itu waktu dapat dipergunakan maksimal untuk membuat rencana lain. Hingga pada saat itu waktu dapat berjalan dengan baik. Gambaran diatas dapat mewakili apabila kita hanya berfokus terhadap orangnya bukan masalahnya. Untuk itu hal yang harus dicari terlebih dahulu adalah apa masalah sebenarnya? Lalu setelah kita menemukan masalah tersebut.
          Fokus kan seluruh daya dalam tubuh ini untuk membersihkan masalah tersebut. Dan saat ini kita sudah terbiasa untuk membershikan masalah bukan orangnya.

Minggu, 12 Juni 2011

Berbagilah jika itu lebih baik



Apa yang kita rasakan saat ini terhadap persoalan itu? Kita sudah menghabiskan waktu hanya untuk menyelesaikan hal ini dan ternyata dalam pikiran kita tidak ada jalan keluar terhadap masalah tersebut. Apakah kita masih merasakan sesuatu yang berat terhadap masalah itu? Jika hal demikian masih kita rasakan maka saatnya diri ini perlu mencari seseorang yang bisa dipercaya dan dapat memberikan nasehat untuk masalah ini.
          Dengan kita bercerita mengenai apa yang terjadi didalam kehidupan ini dimaksudkan agar meringankan segala beban yang sekarang ini. Ketika kita sudah memiliki keputusan untuk membagi masalah ini dengan orang yang dipercaya dan dapat memberikan nasehat. Maka saatnya kita menceritakan seluruh masalah dan persoalan yang membelit kehidupan ini.
          Jangan lagi kita masih tak membiarkan orang tersebut tahu lebih banyak dalam persoalan tersebut. Dalam arti kita tidak menceritakan keseluruhan masalah yang terjadi sebenarya. Lepaskanlah semua yang menjadi beban untuk diri ini, biarkanlah orang tersebut tahu seluruh permasalahan yang ada.
          Hal yang sering terjadi saat ini adalah ketika kita memutuskan untuk mencoba menceritakan segala permasalahan yang ada kita masih memiliki informasi yang orang tersebut tidak boleh mengetahuinya. Ini sama saja dengan kita tidak mempercayai orang tersebut. Hal seperti ini tidak boleh terjadi, untuk memberikan kenyamanan untuk bercerita lebih baik dari awal kita telah memberikan kepercayaan penuh terhadap orang tersebut dalam mendengarkan segala persoalan yang terjadi.
          Berbicaralah seadanya tidak perlu informasi tersebut didramatisir sehingga mengaburkan informasi yang kita berikan. Sering kali ketika kita  mempunyai masalah kemudian menceritakan kepada orang yang kita percayai justru kita yang mendramatisir masalah tersebut.
          Lalu apa yang terjadi jika seseorang masih mendramatisirnya. Tentunya beban yang kita rasakan semakin berat saja. Karena saat ini kita menambah satu informasi yang sebenarnya informasi tersebut tidak berguna. Jika hal ini bisa meringankan kita jangalah ragu untuk menanyakan pendapatnya terhadap persoalan yang ada.
          Jika dia memberikan solusi terhadap kita dengarkanlah dia tanpa berusaha untuk membantahnya lalu solusi yang akan dilakukan berdasarkan keputusan ini.  Memang benar perasaan menjadi ringan ketika kita sanggup menceritakan segala persoalan yang terjadi didalam hidup ini. Jika ini membuat diri ini lebih baik berusahalah untuk selalu bercerita segala sesuatunya.
          Jika kita menginginkan kalimat motivasi jangan ragu untuk mengatakannya kepadanya, bahwa “saya butuh support dari anda” Tujuan dari bercerita adalah memudahkan kita untuk mematahkan lidi-lidi tersebut. Apalagi kini kita ada orang yang memotivasi diri ini untuk mematahkan masalah dalam kehidupan ini.
          Disamping itu motivasi dan dukungan orang tersebut terhadap kita dapat tercipta suasana yang bergairah sehingga menimbulkan semangat yang membara dalam mematahkan lidi tersebut.

Rabu, 08 Juni 2011

Koreksi Diri






Ketika didalam diri ini telah mampu menyatakan bahwa memang saya memiliki masalah, lalu selanjutnya apakah pernah terpikirkan untuk mengetahui dimanakah letak kesalahan kita dalam masalah tersebut? Tidak adanya keinginan untuk mengetahui letak kesalahan yang sesungguhnya merupakan sesuatu hal yang harus diperbaiki.
Sesungguhnya karena keinginan untuk mengetahui dimana letak kesalahan diri ini dalam suatu masalah merupakan cara yang tepat untuk melakukan pengkoreksian diri. Sebelum kita yakin terhadap penyelesaian terhadap suatu masalah, bertanyalah kepada diri sendiri. “Apakah yang saya lakukan ini sudah benar?” kita tidak pernah terpikrkan untuk melakukan pengkoreksian diri di tengah masalah yang sedang dihadapi. Hingga sering kali kita pun mengabaikan hal yang menjadi dasar terbentuknya sebuah solusi. Karena terbentuknya solusi sebuah masalah yang baik didasarkan pada pengkajian lebih dalam dengan cara interopeksi diri terhadap hal-hal terbaik dan terburuk yang telah dilakukan hingga menghasilkan solusi terbaik. Tanpa hal itu kita tidak pernah mengetahui apakah solusi masalah yang terbaik.
Dalam kenyataanya sering kali kita tidak pernah menghiraukan segala tindakan yang pernah dilakukan dalam penyelesaian masalah. Kita justru lebih asyik bekerja keras memikirkan jalan keluar terbaik dalam sebuah masalah. Padahal dasar untuk menyelesaikan sebuah masalah yang baru adalah ketika kita telah mampu mengkoreksi diri ini.
Koreksi diri dilakukan dengan cara membuat daftar apa saja hal-hal yang tidak baik yang pernah kita lakukan saat ini? Tidak juga daftar-daftar tidak baik kita perlu juga untuk mengkoreksi apa kelebihan kita selama ini? Dengan melakukan hal ini dimaksudkan agar suatu saat nanti ketika kita menghadapi sebuah masalah yang sulit lihatlah daftar perilaku terbaik dan terburuk kita. Lalu mengapa hal ini dilakukan? Misalnya ketika kita menyadari bahwa perilaku buruk kita selama ini adalah egois.
Penggambaran dalam perilaku yang egois adalah sebagai berikut, ketika kita dihadapkan sebuah masalah dengan orang lain yang menuntut penyelesaian dengan cepat ketika kita hanya mempertahankan egonya saja sedangkan kita pun mengetahui seseorang yang menjadi lawan dalam masalah tersebut memiliki tingkat egois yang cukup tinggi. Apa yang terjadi jika kita memberikan keegoisan kita terhadap penyelesaian masalah kepada lawan kita? Bukannya penyelesaian masalah yang kita dapatnya justru terdapat masalah yang baru yaitu perselisihan masalah.
Dengan kita membuat daftar perilaku buruk merupakan cara ya efektif dalam sebuah pengontrolan diri terhadap penanganan sebuah masalah. Ketika ingin marah terhadap masalah, dengan melihat catatan daftar perilaku buruk dimaksudkan agar catatan tersebut dapat menjadi alat yang baik dalam pengendalian diri.
Bukan hanya catatan perilaku buruk saja yang dapat memberikan sumbangan dalam pengendalian diri terhadap suatu masalah tetapi perilaku baik juga memberi energi yang luar biasa dalam memandang sebuah masalah. Sebagai contoh ketika kita menilai diri positif yaitu memiliki jiwa tak pantang menyerah. Dan masalah datang secra bertubi-tubi lalu ketika itu kita tak telah merasa lelah terhadap sebuah masalah coba lihatlah catatan positif diri ini dan tersenyumlah kepada diri sendiri sehingga diri ini mendapatkan diri kita yang dahulu.
Banyaknya masalah yang datang membuat diri ini kehilangan mengetahui siapa diri ini sendiri? Dimana kekuatan saya dan dimana kelemahan saya? Kita tidak mengetahui letak kekuatan dan kelemahan kita dalam menghadapi masalah. Padahal kedua hal ini menjadi penting dalam membentuk sebuah solusi terbaik ketika kita mengetahui kelemahan dan kekuatan kita sesungguhnya.
Jika kita belum mampu untuk mengkoreksi diri, mintalah kepada orang yang terdekat melakukan hal ini. Lalu mintalah dia untuk menilai secara keseluruhan dan terbuka terhadap hal-hal terbaik dan terburuk kita.  Hal ini dapat dilakukan tetapi dengan sebuah catatan kita telah siap menerima masukan terburuk sekalipun dari orang tersebut. Terkadang ketika kita belum siap menerima masukan dari seseorang kita sendiri menciptakan sebuah benteng pertahanan sehingga orang tersebut menjadi enggan menilai secara keseluruhan.
Bertanggung jawablah terhadap hal-hal yang telah dilakukan baik itu perilaku baik dan perilaku buruk. Dengan kita memiliki rasa tanggung jawab terhadap perilaku sendiri maka kita sudah mampu mengkoreksi dengan baik diri ini.