Cari Blog Ini

Selamat datang di Inspirasiku

Realisasi Mimpi = Doa +Optimis + Positif Thingking+ Usaha + Mental Baja :)

Kamis, 16 Juni 2011

LIhatlah dasar permukaanya....






Lidi yang datang bersamaan dan akhirnya mengumpul menjadi satu layaknya sebuah sapu lidi. Tetapi hidup bukanlah sebuah sapu lidi, mengapa saya berkata demikian? Karena kita tak layak untuk membentuk lidi menjadi satu kesatuan hingga menjadi sapu. Sapu lidi hanya berguna ketika membersihkan hal-hal yang terlihat oleh mata, tetapi sapu lidi tidak berguna untuk membersihkan debu-debu yang tak dapat ditangkap oleh mata.
          Begitu juga masalah, ketika kita sudah membentuk sebagai sebuah sapu. Kita tidak pernah menyadari ada masalah didalamnya yang harus dibersihkan sedangkan sapu itu tidak mampu untuk membersihkan apa yang terjadi. Dia hanya membersihkan bagian atas yang memang terlihat dipermukaan sedangkan bagian bawahnya terdiam begitu saja. Sebagian dari kita hanya melihat masalah hanya pada permukaan saja, kita tidak bisa merasakan apa yang sebenarnya terjadi di dasar permukaan.
          Setiap masalah yang terjadi tidak pernah dilihat asal usul terjadi sebuah masalah sehingga membuat dasar permukaan ini mengendap dan membuat dasar permukaan tak pernah terlihat lagi. Sehingga selama ini kita hanya melihat permasalahan yang terlihat saja. Kita tidak pernah menyentuh apa yang ada didasarnya. Inilah kesalahan yang selalu terjadi dalam melihat permasalahan yang terjadi.
          Kita selalu menganggap masalah yang terjadi sudah selesai, tetapi sebenarnya  masalah yang ada didasar belum terusik sama sekali.
          Untuk penggambaran permasalahan yang sering terjadi sekarang ini mari  sama-sama coba bayangkanlah sebuah gunung es, di gunung es tersebut kita hanya bisa melihat bagian permukaan saja, tanpa bisa melihat dasar dalam gunung es tersebut. Kini hanya terpesona dengan pemandangan yang terlihat dengan mata ini. Tapi kita tidak pernah menyadari bahwa pada gunung es terdapat dasar yang lebih menakjubkan.
          Bagaimana melihat dasar es tersebut?Jika kita hanya terfokus pada permukaan gunung es, saat itu juga kita tidak pernah mengetahui bagaimana terbentuknya sebuah gunung es. Permukaan gunung es terbentuk karena terjadi pembentukan terlebih dahulu pada dasarnya. Begitu juga masalah? Masalah janganlah pernah dilihat pada permukaan kejadian saja, tetapi saat itu kita harus melihat bagaimana sebenarnya kejadiaanya sampai membentuk sebuah masalah yang baru. Dengan cara seperti itu memudahkan untuk menemukan jalan keluarnya karena kita telah menyentuh bagian dasarnya juga. Untuk menyelesaikan masalah yang terlihat cobalah menyelesaikan bagian yang tidak terlihat yang membentuk sebuah masalah. Apa yang terjadi ketika kita sibuk dengan permukaan gunung esnya saja?
          Permukaan masalah bisa mengecohkan sehingga akan menimbulkan gunung es berikutnya. Waktu yang dihabiskan terlalu lama hanya untuk melihat permukaan es tersebut. Tidak pernah berusaha untuk bagaimana melihat masalah yang terjadi sebenarnya. Dan ini akan membentuk dasar gunung es semakin kokoh sehingga ketika kita hanya berfokus pada permukaan saja. Hingga semakin lama kita tersadar bahwa mengapa permukaan masalah selalu terlihat kembali? Saat itu kita tidak pernah terpikir bagaimana bisa dasar es tersebut begitu kokohnya hingga susah sekali untuk dihancurkan.
          Lalu bagaimana saatnya untuk menghancurkan dasar es yang sudah terlanjur kokoh tersebut? saat ini cobalah untuk memikirkan kembali dengan cara mengingat kembali mengapa masalah tersebut terbentuk? Jika kita telah mampu menemukan jawaban tersebut maka perlahan-lahan telah menemukan sebuah kunci untuk menghancurkan dasarnya saja. Karena untuk menyelesaikan permasalahan yang terlihat cukup menghancurkan dasarnya. Ketika kita sudah mampu menghancurkan dasar es tersebut secara otomatis permukaan es tersebut tidak ada lagi. Tetapi ketika kita hanya menghancurkan permukaan saja, dasar es tersebut sama sekali tidak pernah tersentuh.
          Cobalah untuk melihat akar permasalahan yang terjadi sebenarnya? Karena dengan seperti ini kita tidak pernah membentuk sebuah gunung es karena dasar permasalahan tersebut kini sudah mampu di hancurkan. Hancurkan setiap masalah akan membentuk gunung es, sebelum terjadinya permukaan es kita bisa menghancurkan dasarnya. Begitulah cara bekerja dalam menangani permasalahan yang terlihat sangat berat.



Rabu, 15 Juni 2011

Jujur itu Penting






Dalam pembahasan sebelumnya kita sudah mengerti mengenai kesadaran untuk mengetahui masalah yang terjadi didalam diri sendiri. Tidak hanya kesadaran yang kita butuhkan untuk memberikan sinyal kepada diri ini bahwa memang terjadi masalah yang sekarang ini telah masuk dalam kehidupan kita. Hal yang harus diperhatikan terhadap masalah yang terjadi adalah kejujuran dalam memandang apa akar permasalahan yang terjadi? Didalam kenyataan seringkali kita menyalahkan arti dari kejujuran tersebut. Tak jarang dari kita bahkan seringkali menambahkan bumbu-bumbu dalam mendramatisir masalah yang terjadi.
          Hal ini memungkinkan terjadi untuk masalah yang sebenarnya sangat sederhana tetapi karena menyangkut masalah harga diri sering kali dengan kesengajaan menambahkan kalimat-kalimat yang memberikan efek dramatisir. Seolah-olah masalah yang dihadapin sekarang ini berat sekali. Biasanya hal ini dilakukan ketika kita menceritakan masalah dalam kehidupan ini dengan seseorang yang dipercaya.
          Dengan berbagi kepada orang lain membuat perasaan ini menjadi kosong dan sangat lega sehingga dapat merefresh kembali jalan pikiran ini. Tetapi apabila pada saat kita bercerita tentang apa yang terjadi dalam hidup ini, kita tak menghiraukan nilai kejujuran tersebut sesungguhnya saat itu kita sedang berhadapan dengan sebuah sosok yang menakutkan yang datang dari diri sendiri yaitu ketidakjujuran dalam memandang setiap masalah.
          Ketika kita bercerita untuk menarik banyak simpati dan empati dari lawan bicara sehingga kita membuat ketidak jujuran itu terjadi dalam kehidupan. Sehingga lawan bicara kita saat itu menganggap masalah yang kita hadapi sedemikian beratnya. Jika hal ini kita lakukan maka sesungguhnya tanpa kita sadari sendiri justru amunisi yang kita buat sempurna akan menyerang kembali. Amunisi tersebut adalah efek dramatisir yang terdapat dalam setiap kalimat. Pada saat itu kemungkinan besar memang “Ya” kita mendapat segala rasa simpati bahkan empati. Tetapi kita sesungguhnya tidak pernah menyadari efek dramatisir yang kita ciptakan pada saat itu akan membentuk sebuah persepsi yang baru.
          Awalnya masalah itu sangatlah sederhana dan memiliki jalan keluar yang sangat sederhana pula. Tetapi ketika itu kita berusaha meminta pendapat dan nasehat apa yang harus dilakukan terhadap masalah itu. Untuk mendapatkan rasa empati tersebut dengan sengaja memasukkan kalimat-kalimat yang mengundang perasaan tersebut sehingga pada akhirnya lawan bicara kita akan menganggap masalah yang dihadapi saat ini sangat berat. Lawan bicara kita akan meng “Iya” kan bahwa masalah yang kita hadapi berat.
          Padahal semua itu kita lakukan hanyalah untuk mendapatkan rasa empati saja. Tanpa kita sadari lama-kelaman ada beberapa pesan yang terkirim untuk alam pikiran ini dan menyatakan bahwa “Ini masalah yang berat” hingga menjadi rumit dan tak mudah dipecahkan. Dengan penggambaran diatas kejujuran menjadi nilai yang sangat penting dalam memandang setiap masalah. Lebih baik kita menghargai diri ini sendiri dengan nilai kejujuran dalam perasaan daripada mengharapkan perasaan empati dari setiap orang. Karena perasaan empati tersebut tidak selamanya memberikan kenyamanan untuk diri ini.
          Rasa empati dapat dijadikan amunisi yang mengancam kehidupan ini, jika saat ini masih terbelenggu dalam mengharapkan rasa empati tersebut. Tidak hanya nilai kejujuran dalam memandang masalah yang sebenarnya yang menjadi penting, tetapi nilai kejujuran dalam menyelesaikan masalah merupakan sesuatu yang bijaksana.
          Dan sekarang ini terapkanlah nilai kejujuran untuk diri ini sehingga kita dengan mudah dapat mematahkan lidi-lidi yang akan datang. Karena segala persiapan dari nilai kejujuran tersebut telah ada didalam diri ini.  



Selasa, 14 Juni 2011

Bersihkanlah masalahnya bukan orangnya



Adanya masalah tentunya sangat memungkinkan untuk memiliki masalah dengan orang lain. Sehingga banyak diantaranya pernah memiliki pengalaman yang tidak baik dengan orang yang pernah memiliki masalah.  Dan seringkali justru kita menciptakan masalah baru dengan membenci orang tersebut. Kita yang selalu mempersepsikan bahwa masalahnya adalah orang tersebut, dia memiliki masalah dengan kita.
          Jika memang Ya dia memang bermasalah dengan orangnya sesungguhnya saatnya ini langkah terbaik yang harus dilakukan adalah bersihkan masalahnya bukan orangnya. Karena sesungguhnya masalah yang menimbulkan lidi-lidi yang baru bukan orang tersebut. Jika kita menganalisa lebih dalam sebenarnya sering kali kita menyalahkan penyebab masalah yang telah terjadi adalah orang lain, padahal sesungguhnya akar kejadian yang sering kali adalah kita tidak pernah berfokus terhadap masalah yang terjadi. Tetapi fokus kita pada saat itu adalah orang yang menyebabkan masalah itu terjadi sehingga  tak jarang menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan terhadap orang itu. Terkadang muncul rasa kebencian yang mendalam dan sakit hati luar biasa karena pengalaman beberapa kejadian ini sehingga pikiran ini justru terselimuti oleh semua perasaan negative tersebut. Kita tidak pernah bisa membereskan masalahnya jika sasaran utama kita saat ini tidak tepat.
          Sasaran utama kita saat ini adalah selalu menyalahkan orang lain karena menjadi penyebab dari masalah yang dialami. Jika orang yang dijadikan sasaran utama, kita hanya terus menyibukkan diri untuk memperbaiki perasaan.
          Tidak mudah untuk memperbaiki perasaan apabila sudah terlanjur membenci dan menimbulkan rasa sakit hati terhadap orang tersebut. Sehingga sesungguhnya jika rasa ini sudah dialami ini menjadi pekerjaan yang baru untuk membuat perasaan dan hati ini bersih seperti sedia kala dimana kita mengenalnya. Memang hal ini tidak semudah dibayangkan, kita sudah terbiasa untuk menciptakan sasaran utamanya adalah orang.
          Misalnya ada masalah yang terjadi sekarang yaitu saat ini saya ingin sekali membuka usaha tiba-tiba teman saya mengajukan diri untuk membantu dalam perputaran modal saya. Tetapi dalam perputaran modal tersebut teman saya justru melarikan uang modal tersebut. Padahal modal tersebut dikumpulkan dengan segenap tenaga dan jerih payah saya bekerja bertahun-tahun hanya untuk keinginan membuka usaha dan menjadi seorang pengusaha yang handal. Tetapi teman saya sendiri justru mengambilnya dan melarikanya hanya dalam hitungan hari saja.
          Saya tidak pernah terpikirkan mengapa terjadi hal demikian? Pada saat ini saya membenci teman saya dan seluruh perasaan hingga pikiran terpusatkan pada satu yaitu orangnya. Perasaan dan pikiran saya justru saat ini sudah dikuasai oleh semua hal yang negative terhadap teman saya. Bahkan selama saya selalu menyibukkan diri untuk mencari tahu mengapa teman baik saya yang sudah saya anggap sebagai sahabat sendiri melakukan hal ini kepada saya? Saya selalu menghabiskan waktu saya hanya untuk memikirkan mengapa teman saya melakukan ini kepada saya?
          Semua daya dalam tubuh ini terpusat hanya kepada sasaran orang tersebut hingga melemahkan seluruh rencana yang sesungguhnya sudah saya rencanakaan untuk modal tersebut. Apa yang terjadi? Waktu ini hanya terbuang sia-sia hanya untuk memikirkan orang tersebut dan mengabaikan rencana semula yaitu membuka usaha.
          Kalau saja pada saat itu saya tidak lagi memikirkan mengapa dia melakukan hal ini? mungkin saya sudah memiliki rencana lain. Masalah yang harus kita benahi dalam masalah saya tersebut. Rencana awal yang telah dibuat sempurna menjadi rencana berikutnya karena satu sasasaran saya membuka usaha. Masalah saya adalah dengan tidak ada uang tersebut berarti saat ini saya tidak dapat membuka usaha.
          Nah, pada saat itu waktu saya hanya dihabiskan untuk memikirkan teman saya tanpa memikirkan rencana pengganti yang akan menggantikan rencana awal ini. Apa yang terjadi? Saat itu saya tidak sanggup untuk membuka usaha kembali karena seluruh daya didalam tubuh ini terlalu asyik untuk menfokuskan diri kepada teman saya.
          Padahal kalo saja pada saat itu waktu dapat dipergunakan maksimal untuk membuat rencana lain. Hingga pada saat itu waktu dapat berjalan dengan baik. Gambaran diatas dapat mewakili apabila kita hanya berfokus terhadap orangnya bukan masalahnya. Untuk itu hal yang harus dicari terlebih dahulu adalah apa masalah sebenarnya? Lalu setelah kita menemukan masalah tersebut.
          Fokus kan seluruh daya dalam tubuh ini untuk membersihkan masalah tersebut. Dan saat ini kita sudah terbiasa untuk membershikan masalah bukan orangnya.

Minggu, 12 Juni 2011

Berbagilah jika itu lebih baik



Apa yang kita rasakan saat ini terhadap persoalan itu? Kita sudah menghabiskan waktu hanya untuk menyelesaikan hal ini dan ternyata dalam pikiran kita tidak ada jalan keluar terhadap masalah tersebut. Apakah kita masih merasakan sesuatu yang berat terhadap masalah itu? Jika hal demikian masih kita rasakan maka saatnya diri ini perlu mencari seseorang yang bisa dipercaya dan dapat memberikan nasehat untuk masalah ini.
          Dengan kita bercerita mengenai apa yang terjadi didalam kehidupan ini dimaksudkan agar meringankan segala beban yang sekarang ini. Ketika kita sudah memiliki keputusan untuk membagi masalah ini dengan orang yang dipercaya dan dapat memberikan nasehat. Maka saatnya kita menceritakan seluruh masalah dan persoalan yang membelit kehidupan ini.
          Jangan lagi kita masih tak membiarkan orang tersebut tahu lebih banyak dalam persoalan tersebut. Dalam arti kita tidak menceritakan keseluruhan masalah yang terjadi sebenarya. Lepaskanlah semua yang menjadi beban untuk diri ini, biarkanlah orang tersebut tahu seluruh permasalahan yang ada.
          Hal yang sering terjadi saat ini adalah ketika kita memutuskan untuk mencoba menceritakan segala permasalahan yang ada kita masih memiliki informasi yang orang tersebut tidak boleh mengetahuinya. Ini sama saja dengan kita tidak mempercayai orang tersebut. Hal seperti ini tidak boleh terjadi, untuk memberikan kenyamanan untuk bercerita lebih baik dari awal kita telah memberikan kepercayaan penuh terhadap orang tersebut dalam mendengarkan segala persoalan yang terjadi.
          Berbicaralah seadanya tidak perlu informasi tersebut didramatisir sehingga mengaburkan informasi yang kita berikan. Sering kali ketika kita  mempunyai masalah kemudian menceritakan kepada orang yang kita percayai justru kita yang mendramatisir masalah tersebut.
          Lalu apa yang terjadi jika seseorang masih mendramatisirnya. Tentunya beban yang kita rasakan semakin berat saja. Karena saat ini kita menambah satu informasi yang sebenarnya informasi tersebut tidak berguna. Jika hal ini bisa meringankan kita jangalah ragu untuk menanyakan pendapatnya terhadap persoalan yang ada.
          Jika dia memberikan solusi terhadap kita dengarkanlah dia tanpa berusaha untuk membantahnya lalu solusi yang akan dilakukan berdasarkan keputusan ini.  Memang benar perasaan menjadi ringan ketika kita sanggup menceritakan segala persoalan yang terjadi didalam hidup ini. Jika ini membuat diri ini lebih baik berusahalah untuk selalu bercerita segala sesuatunya.
          Jika kita menginginkan kalimat motivasi jangan ragu untuk mengatakannya kepadanya, bahwa “saya butuh support dari anda” Tujuan dari bercerita adalah memudahkan kita untuk mematahkan lidi-lidi tersebut. Apalagi kini kita ada orang yang memotivasi diri ini untuk mematahkan masalah dalam kehidupan ini.
          Disamping itu motivasi dan dukungan orang tersebut terhadap kita dapat tercipta suasana yang bergairah sehingga menimbulkan semangat yang membara dalam mematahkan lidi tersebut.

Rabu, 08 Juni 2011

Koreksi Diri






Ketika didalam diri ini telah mampu menyatakan bahwa memang saya memiliki masalah, lalu selanjutnya apakah pernah terpikirkan untuk mengetahui dimanakah letak kesalahan kita dalam masalah tersebut? Tidak adanya keinginan untuk mengetahui letak kesalahan yang sesungguhnya merupakan sesuatu hal yang harus diperbaiki.
Sesungguhnya karena keinginan untuk mengetahui dimana letak kesalahan diri ini dalam suatu masalah merupakan cara yang tepat untuk melakukan pengkoreksian diri. Sebelum kita yakin terhadap penyelesaian terhadap suatu masalah, bertanyalah kepada diri sendiri. “Apakah yang saya lakukan ini sudah benar?” kita tidak pernah terpikrkan untuk melakukan pengkoreksian diri di tengah masalah yang sedang dihadapi. Hingga sering kali kita pun mengabaikan hal yang menjadi dasar terbentuknya sebuah solusi. Karena terbentuknya solusi sebuah masalah yang baik didasarkan pada pengkajian lebih dalam dengan cara interopeksi diri terhadap hal-hal terbaik dan terburuk yang telah dilakukan hingga menghasilkan solusi terbaik. Tanpa hal itu kita tidak pernah mengetahui apakah solusi masalah yang terbaik.
Dalam kenyataanya sering kali kita tidak pernah menghiraukan segala tindakan yang pernah dilakukan dalam penyelesaian masalah. Kita justru lebih asyik bekerja keras memikirkan jalan keluar terbaik dalam sebuah masalah. Padahal dasar untuk menyelesaikan sebuah masalah yang baru adalah ketika kita telah mampu mengkoreksi diri ini.
Koreksi diri dilakukan dengan cara membuat daftar apa saja hal-hal yang tidak baik yang pernah kita lakukan saat ini? Tidak juga daftar-daftar tidak baik kita perlu juga untuk mengkoreksi apa kelebihan kita selama ini? Dengan melakukan hal ini dimaksudkan agar suatu saat nanti ketika kita menghadapi sebuah masalah yang sulit lihatlah daftar perilaku terbaik dan terburuk kita. Lalu mengapa hal ini dilakukan? Misalnya ketika kita menyadari bahwa perilaku buruk kita selama ini adalah egois.
Penggambaran dalam perilaku yang egois adalah sebagai berikut, ketika kita dihadapkan sebuah masalah dengan orang lain yang menuntut penyelesaian dengan cepat ketika kita hanya mempertahankan egonya saja sedangkan kita pun mengetahui seseorang yang menjadi lawan dalam masalah tersebut memiliki tingkat egois yang cukup tinggi. Apa yang terjadi jika kita memberikan keegoisan kita terhadap penyelesaian masalah kepada lawan kita? Bukannya penyelesaian masalah yang kita dapatnya justru terdapat masalah yang baru yaitu perselisihan masalah.
Dengan kita membuat daftar perilaku buruk merupakan cara ya efektif dalam sebuah pengontrolan diri terhadap penanganan sebuah masalah. Ketika ingin marah terhadap masalah, dengan melihat catatan daftar perilaku buruk dimaksudkan agar catatan tersebut dapat menjadi alat yang baik dalam pengendalian diri.
Bukan hanya catatan perilaku buruk saja yang dapat memberikan sumbangan dalam pengendalian diri terhadap suatu masalah tetapi perilaku baik juga memberi energi yang luar biasa dalam memandang sebuah masalah. Sebagai contoh ketika kita menilai diri positif yaitu memiliki jiwa tak pantang menyerah. Dan masalah datang secra bertubi-tubi lalu ketika itu kita tak telah merasa lelah terhadap sebuah masalah coba lihatlah catatan positif diri ini dan tersenyumlah kepada diri sendiri sehingga diri ini mendapatkan diri kita yang dahulu.
Banyaknya masalah yang datang membuat diri ini kehilangan mengetahui siapa diri ini sendiri? Dimana kekuatan saya dan dimana kelemahan saya? Kita tidak mengetahui letak kekuatan dan kelemahan kita dalam menghadapi masalah. Padahal kedua hal ini menjadi penting dalam membentuk sebuah solusi terbaik ketika kita mengetahui kelemahan dan kekuatan kita sesungguhnya.
Jika kita belum mampu untuk mengkoreksi diri, mintalah kepada orang yang terdekat melakukan hal ini. Lalu mintalah dia untuk menilai secara keseluruhan dan terbuka terhadap hal-hal terbaik dan terburuk kita.  Hal ini dapat dilakukan tetapi dengan sebuah catatan kita telah siap menerima masukan terburuk sekalipun dari orang tersebut. Terkadang ketika kita belum siap menerima masukan dari seseorang kita sendiri menciptakan sebuah benteng pertahanan sehingga orang tersebut menjadi enggan menilai secara keseluruhan.
Bertanggung jawablah terhadap hal-hal yang telah dilakukan baik itu perilaku baik dan perilaku buruk. Dengan kita memiliki rasa tanggung jawab terhadap perilaku sendiri maka kita sudah mampu mengkoreksi dengan baik diri ini.


Selasa, 07 Juni 2011

Manusia Super


             

             Pernahkah dalam satu hari ada sebuah waktu untuk memahami bagaimana otak ini telah bekerja keras. Dan seluruh otot ini bekerja dalam waktu satu hari. Pernahkah menghitung berapa lama otak kita dipergunakan untuk bekerja dalam waktu satu hari? Adakah setengah hari otak kita bekerja keras dalam memikirkan sesuatu? Yah, jika diakumulasikan otak ini dipergunakan dalam waktu satu hari hanya 2 persen ini berarti kita hanya mempergunakan otak ini bekerja dengan maksimal.
          Tahukah kita bahwa otak ini hanya bekerja tidak sampai satu jam dalam waktu satu hari. Kita memiliki waktu selama 24 jam tetapi kita hanya mempergunakan otak ini bekerja keras kurang dari satu jam saja. Padaha kita ketahui otak ini memiliki ribuan pemikiran yang luar biasa. Tetapi kita hanya memanfaatkan kurang lebih  2 % dari 100 % yang ada. Hal ini disebabkan karena sering kali kita merasa kelelahan dalam berpikir, sehingga tidak pernah terpikirkan berapa lama cara kerja ini yang efisien? Dan diwaktu seperti apa kita sanggup berpikir secara jernih?
          Kita ini adalah manusia yang super yang memiliki kecerdasan yang luar biasa hanya saja kita tak pernah menyadari bahwa di setiap hari kita hanya mempergunakan sedikit saja dari keluar biasaan tersebut. Mengapa saya katakan demikian? Karena semua memiliki tingkat hubungan yang baik antara kecerdasan otak yang luar biasa tersebut dengan kemampuan dalam menangani sebuah masalah. Kita tidak pernah menyadari bahwa dalam menyelesaikan masalah hanya menggunakan 2 % dalam kecerdasan otak kita.
          Belum lagi ketika mengetahui 2 % dari kecerdasan otak ini ternyata tidak pernah sanggup untuk mencari solusi-solusi yang terbaik. Stimulus otak ini sudah terbiasa hanya bekerja 2 % saja. Untuk itu sering kali mengalami kegagalan-kegagalan dalam mencari solusi yang terbaik.
          Jika saja kita mampu meningkatkan kemampuan dengan cara berpikir kita dalam menangani sebuah masalah maka saat ini kita telah sanggup meningkatkan cara kerja otak kita ini. Lalu bagaimana caranya untuk melatih otak ini bekerja maksimal sehingga dapat meningkatkan kemampuan kita dalam berpikir?
          Berlatihlah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita dengan cara berpikir kreatif, berpikir tidak seperti biasanya. Belum tentu hal yang menjadi tidak mungkin kita lakukan menjadi hal yang terburuk dalam penyelesaian masalah. Bisa jadi  sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh kita adalah sebuah jalan keluar yang jitu dalam menangani masalah-masalah itu. 
          Setiap hari kita perlu meningkatkan kemampuan otak ini bekerja. Sehingga kemampuan kita dalam berpikir dan kecerdasan kita saat ini lebih baik dibandingkan sebelumnya. Untuk meningkatkan kemampuan dalam berpikir sebaiknya dilakukan dari sekarang walaupun hari ini kita tidak memiliki masalah.
          Carilah kegiatan-kegiatan yang bisa meningkatkan cara kerja otak ini misalnya dengan cara banyak membaca buku, menyusun jadwal harian, menyusun sebuah rencana secara detil untuk keinginan kita saat ini. Hal-hal seperti ini dimaksudkan agar suatu saat ketika ada persoalan yang sangat berat terjadi didalam hidup ini kita sudah memiliki cara-cara yang terbaik dalam penyelesaiannya.
          Berlatih sebelum pertandingan lebih baik ketika kita belum menyiapkan apapun untuk pertandingan. Ingatlah bahwa kita ini adalah manusia yang super yang memiliki kecerdasan yang luar biasa. Kita hanya mengeluarkan sedikit saja kemampuan berpikir.
           Percayalah bahwa manusia yang super adalah manusia yang terus meningkatkan kemampuannya setiap hari sehingga ketika menghadapi suatu persoalan dalam hidupnya manusia super hanya memerlukan sedikit waktu dalam menghadapi persoalan tersebut. Begitulah cara manusia super bekerja dengan baik.


Senin, 06 Juni 2011

Lakukanlah bukan ucapkanlah






“Saya akan selesaikan persoalan hidup ini” jika itu merupakan suatu pernyataan yang kita ucapkan saat ini, maka pasti akan timbul pertanyaan kembali. Lalu kapan mau diselesaikan? Itu pertanyaan yang terjadi karena pernyataan diatas. Seringkali tanpa sengaja kita mengucapkan kalimat pernyataan yang sebenarnya membuat keraguan untuk kita. Sedangkan saat ini kita hanya membutuhkan sebuah rasa yaitu keyakinan  Ketika ingin bertindak sesuatu terhadap masalah yang mengikat hidup ini.
Untuk itu buatlah sebuah keyakinan yang nantinya dapat digunakan sebagai pelindung dalam pikiran ini dengan menggunakan kata-kata yang mewajibkan kita menyelesaikan persoalan didalam hidup ini. Bedakan dengan kita mengucapkan “saya akan” cobalah untuk menggantikan kata tersebut dengan “Saya harus” buatlah pernyataan yang memang memiliki tanggung jawab terhadap apa yang hendak dilakukan.
Setiap kata sebenarnya mengandung arti berbeda-beda dan dapat mempengaruhi pikiran ini. Pilihlah kata-kata yang memang membentuk sebuah tanggung jawab dan keharusan untuk kita membuat sebuah komitmen dalam penyelesaian persoalan dalam kehidupan. Kalimat tersebut dimaksudkan agar kita memiliki tanggung jawab terhadap semua hal yang kita ucapkan.
Jangan sampai kata tersebut hanya sanggup kita ucapkan tetapi tidak memiliki arti dalam mewujudkannya ke dalam sebuah tindakan. Kata-kata tersebut nantinya akan berpengaruh untuk membangkitkan motivasi didalam diri ini. Janganlah memilih kata-kata yang memberikan kesempatan untuk memberikan pertanyaan keraguan kepada diri kita. Kata-kata tersebut yang akan mewakili sebenarnya kita akan berkomitmen terhadap penyelesaian suatu masalah atau malah membiarkannya terbengkalai begitu saja.
Kata akan memiliki nyawa untuk mempengaruhi diri ini dalam setiap tindakan. Berikan nyawa khusus terhadap pilihan kata yang hendak kita pilih. Hal ini bertujuan untuk mengharuskan kita untuk melakukan suatu tindakan untuk bergerak cepat dalam melakukan sesuatu. Bentuk sebuah komitmen yang mewajibkan kita untuk menyelesaikan segala persoalan yang sudah ada didepan mata. 
Pada bab sebelumnya saya pernah membahas biarkan menjadi satu masalah jangalah menjadi sang kolektor masalah. Jika komitmen dari awal tidak memiliki tanggung jawab dan keharusan maka kita akan menjadi sang kolektor masalah dan kita tak akan pernah bisa membiarkan lidi agar tetap menjadi satu. Jika diperlukan buatlah sebuah hukuman yang hendak dilakukan apabila tindakan tersebut gagal dilakukan.
Hukuman tersebut digunakan jika jika suatu saat ternyata tindakan tersebut tak dapat dilakukan, maka kita wajib menghukum diri sendiri dan mempertanyakan mengapa kita tidak bisa memecahkan persoalan yang ada? Kebiasaan yang sering diucapkan justru kita mengucapkan janji-janji bahwa “Ya saya hendak menyelesaikan persoalan dalam hidup saya.” Tetapi pernahkah kita terpikir bahwa sebuah kalimat tersebut memiliki tanggung jawab untuk melakukan suatu tindakan yang dapat dipergunakan dalam menyelesaikan sebuah masalah.
Biasakanlah mulai sekarang memperhatikan setiap kata-kata yang harus diucapkan. Jangan biarkan kata-kata yang sudah terlanjurkan diucapkan hanya menjadi janji-janji belaka. Janji yang tidak dapat terealisasi karena janji tersebut diucapkan tanpa memiliki komitmen yang bertanggung jawab.
Biasakan diri ini mulai sekarang menerima cambuk dengan kata-kata yang memiliki tanggung jawab bukan dengan kata-kata yang mengandung janji saja. Jangan biarkan pula kata-kata yang pernah kita ucapkan tidak pernah menjadi kenyataan. Ini sama saja dengan membunuh diri ini dengan berbagai persoalan yang nantinya akan mengikat diri ini.
Jika saat ini kita hanya terbiasa dengan memberikan janji pada setiap persoalan yang ada maka saat ini saya sarankan agar kita merubah kebiasaan dengan memberikan rasa tanggung jawab terhadap perkataan yang diucapkan hingga akhirnya secara cepat ucapan akan menjadikan tindakan yang telah ditentukan.