Cari Blog Ini

Selamat datang di Inspirasiku

Realisasi Mimpi = Doa +Optimis + Positif Thingking+ Usaha + Mental Baja :)

Rabu, 25 Mei 2011

Masalah itu adalah lidi






Ketika kita telah sanggup untuk menyadari diri ini bermasalah adalah saat yang tepat untuk memulai langkah berikutnya yaitu menganggap masalah tersebut sebuah lidi.  Masalah yang datang merupakan sebuah lidi yang suatu saat akan melukai diri ini untuk cobalah untuk mematahkan satu lidi tersebut. Sehingga kini lidi tersebut tak pernah lagi melukai kita. Tetapi sebaliknya apabila jika kita menganggap berat masalah ini sesungguhnya ini hanya merupakan pilihan terhadap persepsi dalam pikiran ini.
Kita bisa mengartikan sebuah persepsi tersebut merupakan pilihan yang hendak dilakukan terhadap pikiran ini sehingga menghasilkan tindakan mana yang harus dipilih. Jika menginginkan persepsi ini adalah baik, maka sebuah pesan akan menyampaikan ke dalam alam pikiran ini agar membuat suatu bentuk persepsi sesuai dengan yang diinginkan. Sehingga pesan baik tersebut diterima didalam alam pikiran ini hingga ketika  dapat menghadapi setiap percikan masalah dalam kehidupan yang akan dapat disikapi dengan cara positif.  
Apabila sebaliknya ketika kita sendiri yang justru membuat persepsi ini tidak sesuai dengan yang diinginkan sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan ke dalam alam pikiran ini adalah salah. Sehingga mau tidak mau pikiran yang salah membawa ke dalam tindakakan yang salah.  
Hal ini bisa digambarkan sebagai berikut jika kita menganggap sebuah masalah tersebut adalah halangan justru kesulitan untuk menghadapi masalah tersebut menjadi sangat berat. Dan persepsi yang dimunculkan dalam pikiran ini adalah masalah dalam kehidupan sebuah besi yang sangat berat yang suatu saat dapat menjatuhkan seluruh tubuh ini. Besi yang akan menjadi penghalang setiap langkah ini dari sebuah proses kehidupan.  Besi yang justru menghancurkan segala proses terhadap kehidupan ini.
Hingga segala pikiran telah meblokir semua jalan yang sudah tersedia dan karena hal itu saat ini kita sendiri tidak pernah mengetahui dimana jalan keluarnya. Mata ini sudah tertutup oleh jalan yang sebenarnya sangat terang dan mudah untuk ditemukan. Tubuh ini dibiarkan untuk tidak bergerak karena ketakutan terhadap apa yang nanti dihadapi. Dan pikiran ini terus membayangkan hal-hal negative terhadap masalah yang dihadapi sehingga dapat saja merusak proses kehidupan tersebut.  
Dan Itulah persepsi yang digambarkan yang sesungguhkan ditumbuhkan dalam pikiran ini jika saja kita mempersepsikan sebuah masalah adalah berat bagaikan sebuah besi. Maka segala hal penggambaran negative yang ada didalam pikiran ini.
 Tetapi kalo saja kita mampu mengkondisikan pikiran ini dengan mempersepsikan bahwa masalah ini adalah sebuah lidi yang mampu di atasi. Maka sesungguhnya masalah tersebut menjadi sangat ringan. Lidi tersebut dapat kita patahkan pada saat kita memiliki masalah tersebut. Lidi yang tidak pernah akan menyusahkan kita selanjutnya dan tidak pernah akan melukai diri ini dalam proses kehidupan. Sehingga segala hal dalam memandang masalah adalah tergantung dari persepsi apa yang ingin kita ciptakan pertama kali.
Persepsi yang kita ciptakan pertama kali akan mempengaruhi segala hal dalam proses berpikir sehingga menghasilkan tindakan-tindakan.
Dalam hal ini Jika saja  setiap masalah dalam kehidupan sanggup dipersepsikan sebagai lidi maka dengan mudah dengan pesan akan mengantar dalam pikiran ini bahwa lidi itu ternyata sangat mudah untuk dipatahkan kemudian pesan itu diteruskan untuk perilaku untuk mematahkan sebuah lidi.
Tetapi sebaliknya yaitu bila masalah datang pertama kali  dan kita menolak terhadap masalah berarti pikiran ini sudah dapat mempersepsikan bahwa masalah-masalah tersebut adalah ranjau untuk kehidupan.
Sehingga alam pikiran ini akan mempersepsi bahwa “Saya saat ini sedang menghadapi masalah yang sangat berat” tahukah apa yang terjadi jika alam pikiran tersebut disambut dengan hal-hal yang dari awal skema nya adalah berat dan beban.
Jika kita telah mempersepsikan segala hal  yang diciptakan adalah berat setiap kita melangkah, kaki ini menjadi sangat susah dalam berjalan. Dan kita tetap tak memiliki kesanggupan untuk melangkah dan saat ini tetap berada di tempat yang sama.  
Tindakan yang kita lakukan sia-sia karena sekalipun kita melangkah tetap ditempat yang sama. Saat ini kita tidak memiliki proses kemajuan terhadap kehidupan yang kita miliki.  Tak hanya itu saja banyaknya terdengar kasus-kasus bunuh diri karena permasalahan yang menimpa dalam dirinya sendiri. 
Permasalahan dalam kasus bunuh diri memiliki beraneka ragam masalah dalam proses kehidupan pada setiap orang yang memilih jalan untuk mengakhiri hidup.  Persepsi yang mempengaruhi cara berpikir mereka sehingga memilih jalan tersebut dan persepsi yang sebenarnya mengantarkan kehidupan mereka untuk mengakhiri hidupnya.
Kita pertama kali telah menyadari bahwa “Yah, saya memiliki masalah” antarkanlah persepsi bahwa masalah tersebut hanya sebuah lidi yang sangat mudah dipatahkan ke dalam alam pikiran ini. Berikanlah berbagai informasi kemudahan-kemudahan jalan keluar dari setiap masalah-masalah tersebut. Biarkanlah alam pikiran ini memikirkan dan menyampaikannya bahwa “Ini terasa sangat ringan.”
Persepsi ini telah berhasil menyampaikan kepada alam pikiran kita kemudian sekarang adalah bagaiamana menyampaikanya ke dalam wujud tindakan. Jika memang benar bahwa kita telah menganggapnya sebuah lidi. Lalu untuk selanjutnya pertanyaan yang akan muncul didalam benak ini adalah mau diapakan lidi ini?.
Ketahuilah bahwa satu lidi pun akan bisa menyakiti diri ini, jika kita salah mengambil tindakan. Jangan biarkan pesan dari pikiran ini salah kita sampaikan dalam wujud tindakan. Proses kehidupan yang terlihat sempurna apabila kita telah mengambil hal yang benar dalam proses kehidupan.
Dalam penjelasan hal tersebut adalah jangan biarkan diri ini salah melangkah sehingga akan terjebak ke dalam jurang yang lebih dalam lagi.
Sebuah lidi bisa membuat menyakitkan apabila tindakan yang dipilih tidak benar dan menjadikan proses kehidupan berhenti sejenak. Saat ini juga coba bayangkanlah kita mengambil sebuah lidi lalu tanpa sengaja bagian tubuh ini tertusuk oleh lidi tersebut misalkan saja bagian mata ini tertusuk lidi tersebut, lalu apa yang terjadi? Tentu kita pasti akan menahan rasa kesakitan akibat luka tersebut.
Begitu juga dalam menghadapi setiap masalah. Jika saja kita telah salah mengambil tindakan terhadap sebuah lidi maka hal ini akan menjadi boomerang kembali dalam diri ini mau dibawa kemana setiap masalah tersebut. Apakah akan kita simpan hingga suatu saat akan menyakitkan atau justru sebaliknya lidi tersebut kita patahkan?
 Setiap konsekuensi pilihan terhadap tindakan selanjutnya akan membuat proses kehidupan menjadi berbeda. Karena kita membuat pilihan untuk menyimpannya lalu seperti penggambaran diatas hal ini justru melukai kita. Maka tindakan kita yang membuat proses kehidupan selanjutnya. Tetapi disaa kita telah sanggup untuk mematahkan satu lidi tersebut maka kita juga telah membuat pilihan terhadap proses kehidupan selanjutnya.
Untuk itu tetaplah berhati-hati terhadap pilihan bertindak karena setiap masalah akan membuat sesuatu yang berbeda dalam proses kehidupan.




Senin, 23 Mei 2011

Apakah Saya Bermasalah?






        Setiap kali teman saya  bercerita keluh kesah terhadap kehidupan hanya satu yang saya tanyakan kepadanya yaitu “Tanyakanlah kepada diri ini apakah sesungguhnya saya bermasalah?”. Itulah satu pertanyaan yang layak untuk diungkapkan ketika mengetahui bahwa sesuatu masalah telah menimpa kita dengan mengajukan pertanyaan kepada diri “Apakah saya bermasalah?” Lalu mengapa hanya pertanyaan tersebut jawabanya adalah Jika kita sanggup untuk menyatakan diri bahwa sesungguhnya saya memang bermasalah.
        Satu hal yang positif terdapat dalam diri ini adalah kita sanggup memeriksa diri sendiri bahwa terdapat hal yang salah didalam diri ini. Sehingga secara sadar ketika masalah datang begitu saja kita bisa menangkapnya dengan otomatis sehingga tidak perlu bersusah payah untuk mengontrol kesadaran akan setiap kesalahan tersebut.  Karena saraf dalam tubuh ini sudah terlatih untuk menangkap setiap masalah yang datang.
        Keadaan ini diciptakan karena sesungguhnya tubuh ini sudah terbiasa untuk menangkap setiap sinyal-sinyal masalah yang akan kita hadapi. Hal yang harus diwaspadai justru apabila seseorang tidak pernah menyadari bahwa dirinya bermasalah hingga hal ini menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.  Sehingga sinyal didalam diri tidak pernah tahu dimana letak kesalahan berada dimana hal ini mengakibatkan kita tidak pernah mengerti apa kesalahan yang ada didalam diri ini.
        Sinyal-sinyal tersebut menkondisikan dengan membuat tempat masalah yang baru. Hingga setiap kali kita tak menyadari bahwa sesungguhnya saya memiliki masalah.  Hal ini sebenarnya yang salah didalam diri ini ketika kita mengatahui bahwa sesungguhnya diri ini terlambat untuk menyadari dimana sebenarnya kesalahan ini? Sehingga hal ini bisa memunculkan permasalahan yang baru.         Permasalahan yang selanjutnya akan menyelimuti seluruh tubuh ini tanpa terkecuali dan akhirnya justru kita tak akan sanggup untuk mengusai segala pikiran dan tubuh. Tetapi permasalahan didalam diri ini yang sering muncul adalah kita tidak dapat mengkoreksi diri sendiri dengan mengajukan pertanyaan  “Emang salah saya dimana?” pertanyaan ini merupakan pertanda bahwa kesalahan mengkoreksi diri tidak dapat diatasi sehingga sinyal tersebut secara otomatis membuat tempat yang baru.
        Tak cukup sampai disitu saja, tempat tersebut akan terus melebar dan membuat wilayah yang baru. Wilayah yang semakin meluas sehingga akhirnya justru wilayah tersebut akan menjatuhkan kita pada nantinya. Karena sekarang wilayah tersebut telah memilki beraneka ragam masalah yang tidak dapat kita kendalikan. Wilayah tersebut yang sebenarnya akan menguasai diri kita sendiri. Kini semua kendali ada didalam wilayah tersebut.
        Hingga waktu yang berjalan cukup jauh sehingga menegur diri ini untuk melihat betapa banyaknya tempat baru yang telah kita buat. Waktu yang telah terbuang sia-sia tersebutnya layaknya tak pernah mungkin untuk kembali lagi. Waktu yang berjalan membuat secara kita sadar tempat-tempat tersebut justru akan mengotori pikiran ini.
        Betapa dahsyatnya pengaruh dari masalah-masalah yang datang dan mengotori pikiran ini. Tanpa kita sadari perilaku akan mensituasikan dengan pikiran saat ini. Sehingga saat ini perilaku kita telah terbiasa dengan hal-hal yang mempengaruhi pikiran ini. Bisakah kita membayangkan apa yang terjadi jika kita mengubah perilaku sesuai dengan pikiran yang sudah terkotori dengan kepingan masalah karena  justru kita sendiri yang memilihnya untuk memelihara masalah tersebut?  Perilaku yang akhirnya bisa menandakan dimanakah sebenarnya saya saat ini? Hingga tanpa kita sadari kini perilaku ini menjadi sangat berbeda ketika kita tak memiliki masalah apapun.
        Perilaku yang baru didalam diri ini, bisa mengakibatkan diri ini kehilangan kendali dan mengatakan “Sebenarnya saya ini mau seperti apa?” suatu pertanyaan yang diajukan kepada diri sendiri yang menandakan bahwa sesungguhnya ada rasa kelelahan yang megartika kita tak mampu menguasai setiap masalah yang ada.
        Kalau saja dari pertama ada rasa didalam diri untuk mengakui “Yah, memang benar saya memiliki masalah dan masalah sesungguhnya memberikan kesalahan”.
        Hal yang dapat mengubah pikiran ini tidak akan menjadi seperti itu. Karena sebelumnya pikiran ini telah diberikan sinyal positif bahwa “yah saat ini saya memiliki masalah, dan harus saya selesaikan sekarang” Lalu mengapa saat ini kita tidak pernah mengakui kepada diri sendiri? Saat ini kita menikmati hidup sekarang sehingga mengabaikan hal-hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
        Satu masalah sebenarnya yang terbesar dan sering sekali kita temukan adalah ketika kita sadari bahwa kita memiliki masalah, kita tidak membiarkan tubuh ini menerima masalah-masalah yang datang. Dan tubuh ini justru yang memilih untuk membiarkan setiap kepingan masalah yang datang. Hingga akhirnya masalah tersebut akan menguasai pikiran ini.
        Untuk itu dalam satu hari perlu adanya satu waktu untuk mengkoreksi apakah hari ini saya membuat masalah baru? Jika pertanyaan ini masih dijawab dengan rasa ketakutan untuk menjawab iya. Ketakutan karena nantinya tidak akan bisa menikmati rangkaian kehidupan ini. Rangkaian kehidupan yang justru akan menjatuhkan kita.
        Satu pelajaran baru yang dapat menggambarkan keadaan ini adalah menyadari         masalah yang datang ternyata lebih sulit daripada menyelesaikanya.  Untuk itu biarkanlah tubuh ini terbiasa terlebih dahulu untuk mengkondisikan bahwa masalah itu memang ada.
        Akuilah dengan mengatakan “Ya saya memang bermasalah” dengan hal seperti itu kita tak lagi membiarkan masalah yang datang terus menumpuknya. Karena kita sendiri yang akan berusaha untuk mematahakan setiap masalah yang datang dan pada akhirnya kita tubuh hingga segala pikiran ini terbiasa dengan keadaan seperti itu.

Jumat, 20 Mei 2011

Karena Hidup Adalah Tantangan





“Hidup adalah tantangan” begitulah cara saya terbaik dalam memandang sebuah kehidupan. Saya sangat suka dengan kata tantangan, karena bagi saya tantangan bisa memberikan usaha ini menjadi lebih maksimal. Saya merasa tertantang untuk melakukan yang terbaik, karena saya sesungguhnya tidak pernah ingin kalah terhadap sebuah kehidupan.
Saya akan menyakini diri ini bahwa saya layak menjadi pemenang untuk kehidupan diri sendiri. Saya pun layak untuk mendapat piala yang nanti akan dipersembahkan untuk diri saya karena membuat sebuah kehidupan menjadi sangat berwarna.  Piala yang saya buat sendiri dan berikan kepada diri sendiri merupakan sebuah symbol untuk memaknai bahwa ternyata saya mampu melewati kehidupan yang sangat berwarna ini. Itulah pelajaran yang saya ambil, ketika berusaha menjalankan hidup dengan menciptakan warna sendiri.
Dan hari ini saya mengambil keputusan bahwa masalah yang berat merupakan tantangan terdahsyat yang membuat hidup ini menjadi lebih berwarna. “Yeah, saya suka tantangan” begitulah ketika hari itu saya berteriak sangat hebat untuk menyakini bahwa memang saya suka tantangan.
\Hidup menjadi tidak berwarna jika kita menghindari tantangan, hidup menjadi sangat datar dan membosankan jika setiap harinya melakukan hal-hal yang itu saja tanpa berusaha memikirkan sesuatu keberhasilan yang ingin kita lakukan.
Kecenderungan selama ini adalah keberhasilan tertunda karena sejujurnya kita tidak pernah ingin menghadapi resiko yang akan dihadapi didepan mata. Ada sebuah rasa ketakutan yang sebenarnya melekat didada dan tak ingin melepaskanya karena sebenarnya kita sendiri belum sanggup menghadapi segala resiko tersebut.  Bagaimana kalo kita menilai segala resiko merupakan warna tersendiri yang sebenarnya sangat indah?
Anggaplah resiko adalah sebuah kuas dengan warna favorit kita kemudian tuangkanlah kuas tersebut dengan membentuk guratan yang sangat indah. Sebenarnya masalah yang ada didalam diri kita adalah masalah biasa atau tidak biasa? Selama ini kita tidak pernah sanggup untuk menghadapi tantangan karena kita sendiri tidak pernah membiasakan diri untuk menghadapi tantangan tersebut. Kalo saja kita ini mampu menyelupkan semua kuas yang ada ke dalam warna kesukaan kita tanpa ada perasaan keraguan yang ada didalam hati ini, pasti suatu saat goresan kuas tersebut akan menjadi sangat indah karena kita telah membiasakan diri ini untuk melukiskan setiap kehidupan tersebut.
Jika hari ini kita berkata kepada diri sendiri sungguh saya tidak mampu menghadapi ini semua, bagaimana kita membuat warna hidup ini? Hanya ada satu warna yang bisa melambangkan ketidak siapan tersebut. Coba kita lukiskan dengan keadaan ketidaksanggupan kita saat ini, pergilah ke sebuah toko gambar untuk membeli sebuah canvas dan beli lah hanya satu warna saja yang kita paling sukai. Kemudian gambarkanlah lukisan yang ingin kita gambarkan hanya dengan warna itu. Apa yang terjadi saat itu? Walaupun kita menyukai warna favorit tersebut tetapi sesungguhnya kita sendiri tidak bisa menikmati lukisan tersebut karena hanya satu warna saja. Bisakah membayangkan lukisan kita saat ini hanya satu warna saja.  Hal ini terjadi karena sesungguhnya kita sendiri tidak memiliki keberanian untuk mencoba warna lain.
Didalam diri sendiri ada rasa ketakutan, karena kita tidak sendiri tidak pernah dibiasakan untuk berpikir positif bahwa ternyata kita memerlukan tantangan untuk membuat warna-warna yang indah dalam kehidupan ini. Yah hal yang terbaik dalam menyikapi sebuah tantangan adalah terus memandangnya dari sisi yang positif dan teruslah membayangkan bahwa suatu saat nanti lukisan yang kita buat akan menjadi indah. Dan pada saat itu kita akan mengucapkan “Terimakasih, wahai tantangan Kau buat hidupku lebih berwarna”





Kamis, 19 Mei 2011

Kedewasaan adalah perubahaan





Seorang teman baik pernah menanyakan kepada saya “apa arti kedewasaan?” lalu saya menjawab kepadanya kedewasaan dimana kita mampu menyelesaikan masalah dengan bijak. Dia tidak mengiyakan jawaban saya. Setiap orang memilki arti kedewasaan yang berbeda-beda baginya kedewasaan dimana seseorang menyadari bahwa dia dapat merubah segala sesuatu didalam dirinya yang tidak baik menjadi hal yang baik.
Jika kita sudah sadar bahwa ternyata kita memiliki segala sikap yang bisa merugikan diri sendiri dan dapat merugikan orang lain hal yang paling menunjukkan segala kedewasaan didalam diri kita adalah jika kita mampu menyadari bahwa hal ini tidak baik dilakukan. Dan jika saja didalam diri telah dipasang sebuah alat pengendali yang berfungsi untuk memberitahu sifat-sifat tersebut ternyata merugikan untuk orang lain.
Alat pengendali yang akan mengontrol segala perilaku kita dan memberikan evaluasi terhadap diri ini setiap harinya. Sehingga dimalam hari sesungguhnya kita menyadari mana yang ternyata tidak baik dan merugikan orang lain evaluasi di hari itu adalah bekal yang nanti akan kita bawa untuk keesokan harinya. Buatlah bekal terbaik di pengunjung hari, sehingga di keesokan harinya kita dapat menikmati bekal tersebut dengan hati yang suka cita.
Sisi kedewasaan ternyata bisa dilihat dari perubahan seseorang ke arah yang lebih baik. Tetapi kebanyakan setiap orang terkadang tidak pernah menyadari bahwa ternyata ada beberapa perilaku yang merugikan orang lain. Mereka malah asyik dan menikmati perilaku tersebut dan menganggap hal itu adalah benar. Penilaian orang terhadap diri ini pasti akan sangat berbeda dengan penilaian terhadap orang lain terhadap diri ini.
Cara terbaik agar penilaian diri sendiri dilakukan dengan objektif adalah dengan cara mintalah kepada orang terdekat kita untuk menilai apakah di hari ini ada sifat-sifat yang ternyata merugikan orang lain.  Biarkan mereka mengkoreksi apa yang salah di dalam diri kita, dan persiapkan diri ini agar segalanya mampu koreksi pribadi mengenai diri sendiri mampu kita terima dengan baik. Anggaplah ini suatu langkah terbaik yang harus dijalani untuk pencapaian sempurna.
Jangan biarkan kita sendiri yang justru membenarkan perilaku yang merugikan orang lain dengan alasan “Saya ini benar, mengapa saya harus berubah” ketahuilah jika selama ini kita masih bersikap ini hal ini sesungguhnya kita dapat mengajukan pertanyaan untuk diri sendiri. Seberapa dewasakah saya ini? Apakah saya telah dewasa dengan bertanggung jawab terhadap semua perilaku ini? Dalam hal ini kita menyadari tidaklah mudah untuk merubah diri sendiri, jika tidak ditemukan suatu kemauan yang kuat dan kesadaran diri yang tinggi untuk mengatakan bahwa “Saya harus berubah” sadarilah semua orang pasti ingin menjadi manusia yang lebih baik dari yang sekarang. Jika hari ini saja kita masih mempertahankan segala hal yang tidak baik didalam diri ini, akankah sesungguhnya kita menyadari mau dibawa kemana hidup kita.
Jika saja kita sudah merasa tidak perduli terhadap diri sendiri untuk melakukan perubahan positif lalu apa yang bisa diharapkan dari sebuah kehidupan yang saat ini kita jalani? Apakah mengharapkan orang lain yang perduli terhadap kita? Jangan bayangkan orang lain akan berempati terhadap kita kalo kita tidak mampu berempati terhadap diri sendiri. Maka dari itu semua hal yang terbaik yang bisa dilakukan saat ini teruslah mengkoreksi dan memberikan penilaian untuk diri ini menjadi lebih baik.
Temukan orang-orang disekitar kita yang menginginkan perubahan perilaku untuk diri ini. Biarkanlah mereka bebas untuk mengkoreksi dan menilai seberapa baikkah diri ini dimata mereka. Buatlah suatu daftar tertulis mengenai apa-apa saja yang memang harus diperbaiki. Tujuan dibuatnya daftar tertulis agar kita selalu mengingat dan memiliki tanggung jawab untuk melakukan perubahan tersebut. Dan jadikan persiapkan diri ini melalui perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan untuk keesokan harinya.
Perubahan perilaku ini tidak perlu dilakukan secara drastis, hal ini bisa mengakibatkan perilaku yang kita miliki adalah sementara. Untuk itu perlu dilakukan uji kenyamanan, jangan sampai kita sudah berusaha merubah perilaku ini tetapi kita sendiri tidak nyaman dengan apa yang kita lakukan. Memang ini kelihatan akan sangat sulit untuk dilakukan, tetapi cobalah jika hal ini dimulai dari sesuatu yang kecil dahulu misalnya ketika setiap orang mengenal diri ini adalah seseorang yang suka  sekali membanggakan diri sendiri cobalah untuk  melibatkan orang lain dalam setiap pembicaraan dengan mengatakan hal yang sebenarnya sederhana tetapi memiliki makna yang luar biasa contohnya “Tanpa kalian, saya tidak pernah mungkin menjadi seperti sekarang ini”. Setiap pasti akan merasa senang ketika mencantumkan nama mereka dalam setiap kesuksesan kita.
Cobalah untuk melakukan hal yang sesederhana mungkin agar diri ini juga tidak merasa kaku untuk melakukan perubahan perilaku menjadi lebih baik.  Untuk itu siapkan bekal terindah yaitu perilaku terbaik ini dan bawalah dia menuju esok hari yang membanggakan. Dan teruslah melakukan koreksi kembali, dan ijinkan orang lain kembali melakukan penilaian terhadap bekal yang telah dibuat tersebut agar setiap hari kita sendiri menemukan kejutan bahwa ternyata bekal perilaku telah menjadi inspirasi untuk orang lain melakukan perubahan.

Tumbuhkanlah Kesempatan Dalam Pikiran Ini.....




“saya sudah melakukan yang terbaik untuk kesempatan ini.” itulah yang saya ucapkan ketika satu kesempatan terbaik datang pada saya.  Ketika kesempatan itu telah datang, maka saya pergunakan sebaik-baiknya. Saya ingin berbuat maksimal terhadap segala kesempatan ini. Saat ini tergantung dari campur tangan dari pencipta. Segala gambaran positif ada di ruang pikiran ini.
Untuk itu menunggu hasil yang terbaik merupakan saat dimana pikiran ini tak pernah bisa lepas dari harapan-harapan yang tak tentu, maka pada saat segala gambaran positif akan kesempatan itu perlu di perlihatkan untuk mendukung segala daya tarik terbaik akan hasil yang ada didepan mata ini. Kemudian hiruplah aroma dari hasil terbaik itu seolah-olah kini saya sudah berada di Hasil terbaik ini.
Saya mencoba untuk menjalani semua dengan merasakan bahwa ini adalah sebuah kenyataan. Tidak ada satu hari pun saya lewati dalam menantikan hasil terbaik tersebut tanpa berpikir positif seolah-olah saya telah berada di zona kenyataan. Itulah cara yang terbaik dalam menantikan hasil tersebut. Lalu bagaimana jika ternyata kenyataan tidak seperti ada dalam keinginan teserbut.Hasil yang diharapkan menjadi sesuatu hal yang mustahil bagi kita.
Penantian yang kita tunggu selama beberapa hari bahkan melebihi hitungan bulan ternyata penantian ini menjadi sia-sia. Segala sisi positif kita sudah usahakan, tetapi kenyataan tidak seindah yang dibayangkan. Satu pelajaran yang sangat berarti ketika saya tidak harus menunggu hasil tersebut, saya bisa mencari kesempatan baru yang dapat memberikan kenyataan yang terbaik.
Kini saya bayangkan bahwa kesempatan adalah sebuah tanaman, dan lahan terbaik untuk menanam tanaman tersebut adalah dalam pikiran ini. Saya tidak hanya membutuhkan satu tanaman saja. Maka saya mencoba untuk menanamkan beberapa kesempatan kemudian saya berikan pupuk aroma kenyataan yang terlihat sangat nyata.
Saya selalu melihat tanaman kesempatan setiap hari. Kemudian untuk perkembangan yang lebih subur saya juga memberikan air positif yang bisa membantu pertumbuhan dari kesempatan dalam pikiran ini. Saya terus mencari kesempatan itu agar suatu saat kesempatan itu datang sendiri untuk saya. Karena kesempatan tersebut telah mengetahui bahwa tanah didalam pikiran ini telah tumbuh subur tanpa ada hama negative yang bisa menganggu kelancaran pertumbuhan tersebut.
Tanpa kita sadari lama kelamaan peluang dan kesempatan mampu terbaca dengan mudah. Bahkan karena sangat mudahnya, kini dia berada di tempat yang tepat didalam pikiran kita. Sehingga saat ini kita tidak perlu mencari kesempatan kembali, karena kesempatan datang dengan sendirinya. Dan sudah menyatu dialam pikiran ini. Saya tidak pernah lupa untuk memberikan air positif kepadanya.
Lama-kelamaan kesempatan tersebut tumbuh subur dalam pikiran ini, sehingga waktu yang kita tunggu tidak terasa sia-sia. Kenyataan yang begitu indahnya layaknya seperti memetik buah dari hasil tanaman ini memang begitu sangat melegakan hati. Dan kita mampu menyatakan kepada diri sendiri dengan berteriak suka cita  “Yes, saya bisa memetik setiap kesempatan yang ada. Kini kesempatan itu adalah sebuah kenyataan yang indah” Maka dari itu tumbuhkanlah kesempatan-kesempatan itu didalam pikiran ini.


Rabu, 18 Mei 2011

Keindahan karena rasa syukur




“Rumput tertangga akan selalu terlihat hijau” begitulah sebuah ungkapan yang sebenarnya menjadi tanda bahwa sebenarnya kita tak pernah mensyukuri apa yang telah kita dapatkan. Ketika kita mendapatkan pekerjaan yang sebenarnya gajinya sangat berbeda dengan tempat teman kita bekerja sehingga tanpa kita sadari mengatakan padanya “enak sekali yah, ditempat saya tak seperti ini” atau ketika kita dapat membeli rumah,dan ternyata di tetangga rumah sudah membeli mobil yang baru. Lalu terlintas dalam pikiran ini “Enak yah jadi seperti dia” atau apapun juga yang menjadikan diri ini selalu melihat keatas dan sesungguhnya secara tak sadar kita tak pernah dapat mensyukuri hal-hal apa saja yang sudah merupakan porsi dari Nya.
Usaha yang mempengaruhi seberapa besar porsi yang kita terima. Tetapi ketika ada seseorang yang bertanya kembali  “Saya telah berkerja keras tetapi mengapa hasil yang saya dapatkan tidak sebanding dengan dia? Usaha saya jauh lebih besar dari padanya” Apakah yang sebenarnya yang menentukan keberhasilan kita? Jika kemudian kita sudah berhasil menandinginya kemudian melihat orang lain jauh diatas kita kemudian kembali ke titik terendah bahwa saya telah memilki usaha maksimal tetapi mengapa porsi saya tetap segini? Begitu seterusnya hingga sebenarnya kita bingung apa yang sebenarnya kita inginkan? Boleh kita memilki keinginan yang paling besar sekalipun tetapi janganlah sekali-kali mengotori keinginan-keinginan kita dengan perbandingan yang kita buat sendiri.
Perbandingan yang kita buat ini merupakan salah satu langkah yang justru menjatuhkan kita. Akibatnya adalah ketidak fokusan kita terhadap keinginan tersebut sehingga selalu merasa kurang jika dibandingkan oleh orang lain. Sebenarnya cukup mudah untuk menentukan kunci keberhasilan yaitu dengan cara berusaha mensyukuri seberapa besar porsi yang telah diberikan oleh Nya.
Karena dengan bersyukur berarti kita telah sanggup menghargai hasil kerja keras sendiri. Sedangkan ketika kita mencoba melihat keatas, seberapapun sudah diatas selalu merasa kurang sehingga menjadi seseorang yang sangat tamak terhadap apapun juga.
Orang seperti ini tak pernah bisa untuk tersaingi, bahkan dia tidak perduli untuk segala waktu dipikirkan bagaimana cara menandingi seseorang yang lebih baik darinya sehingga tentu saja hal-hal ini bisa membuat kita lupa bahwa sebenarnya rasa syukur adalah batasan sebuah penghargaan diri dan keinginan yang terlampaui. Hingga mampu mengucapkan rasa syukur.
Sesungguhnya satu pernyataan yang baru adalah rumput tetangga tak pernah ada habisnya jika dipandang. Mulai sekarang cobalah untuk tutup mata terhadap berbagai kenikmatan yang orang lain dapatkan, tutup mata disini adalah dalam arti berusaha untuk fokus terhadap diri kita sendiri dengan tidak memandang seberapa banyak orang telah melampaui kita.
Hargailah seberapa besar usaha yang pernah kita lakukan untuk melakukan hal-hal terbaik terhadap keinginan tersebut. Cobalah untuk bersyukur terlebih dahulu dengan usaha-usaha terbaik tersebut hingga ketika kita sudah sanggup bersyukur energy yang lebih besar dapat menyelimuti tubuh ini dalam menghadapi hal-hal yang baru.
Bersyukur merupakan salah satu energy yang luar biasa yang dapat digunakan kembali untuk proses kehidupan selanjutnya. Karena suatu keberhasilan dapat ditentukan pula oleh seberapa besar rasa syukur ini. Dan akhirnya ada sebuah pepatah baru yang menggantikanya bahwa rumput tetangga tak selamanya akan indah, tetapi rasa syukur adalah keindahan luar biasa.

Karena Saya yang Memilih





Saya telah memilih jalan untuk memiliki dendam kepada beberapa orang yang memiliki andil merusak hidup ini. Apa yang saya rasakan ketika itu adalah saya terus memikirkan kejadian-kejadian yang tidak membuat saya bahagia, hingga tanpa saya sadari saya telah mengeluarkan begitu banyak airmata hanya dengan memikirkannya. Lalu apa saja yang saya lakukan pada saat itu? Waktu saya banyak tersita untuk memikirkan hal-hal yang tersebut. Sehingga segala pekerjaan terhambat untuk melakukan sesuatu, tak hanya itu saja bahkan saya tak jarang sering sekali meluapkan segala kemarahan kepada siapapun ketika keadaan tidak stabil.
Hingga pada taraf saya membenci diri saya sendiri. Bahkan ketika saya menghadap ke cermin lalu mengatakan “siapakah saya sebenarnya?” “beginikah hidup yang saya inginkan?” cermin tidak mengatakan apa-apa untuk berubah, cermin hanya mengatakan bahwa betapa buruknya hati ini. Hingga hati ini sesungguhnya mengajukan pertanyaan sendiri “Apa yang saya inginkan sebenarnya?” Jelas saya menginginkan hidup ini bahagia. Dan  mengapa pikiran ini tidak pernah bisa hilang? Karena hati ini sebenarnya yang harus diperbaiki, hati ini meminta untuk memikirkan hal-hal tersebut.
Hati ini telah terluka sangat dalam, sungguh tak akan pernah mudah menghilangkan bekas-bekas luka tersebut. Kalo saja ada bengkel hati mungkin saya akan mereparasi ulang hati ini hingga luka tersebut dapat hilang. Jika saya memiliki bengkel hati, pasti hidup ini akan menjadi bahagia. Karena saya bisa memilih kapan saya bisa akan mereparasi hati ini.
Lalu apakah saya akan hidup dengan keadaan seperti ini terus?  Tidak semua orang pasti ingin bahagia begitu juga saya. Dan akhirnya keputusan terbesar dalam hidup saya dibuat di hari ini bahwa keputusan saya adalah bahagia dan dapat menikmati setiap detik hidup ini. Saya juga tak pernah ingin melewatkan setiap detik pun kebahagian tersebut.
Detik ini juga saya ambil kembali cermin tersebut dan tersenyum kepada senyum tersebut “Hay cermin inilah diri saya kembali dengan lahir kembali menjadi yang baru” Lalu apa kata cermin kepada saya “Kau belum menunjukkan sesuatu yang baru padaku” Mungkin benar sebuah jawaban saya temukan bahwa saya belum menunjukkan perubahan jika saya tidak melakukan apa-apa terhadap apapun juga.
Dan hari ini saya juga melakukan apa yang tidak biasa saya lakukan yaitu dengan membuka lembaran baru yaitu dengan memaafkan orang yang melukai saya, saya katakan dahulu kepada mereka bahwa saya yang telah memaafkan hati saya untuk kepada mereka. Hidup ini menjadi ringan ketika kita memiliki kesanggupan untuk memberikan maaf kepada orang-orang yang telah melukai hati kita walaupun belum pernah ada permintaan dari mereka. Tetapi ketahuilah dengan memaafkan dengan ikhlas dan tulus membuat hidup ini menjadi sangat nyaman dan ringan. Keringanan hidup ini yang sebenarnya akan membukan jalan kebahagian. Karena sebenarnya jalan kebahagian itu tertutup oleh kita sendiri, kita tak pernah mengetahui bagaimana membuka jalan kebahagian itu jika hati ini masih diliputi oleh rasa sakit hati dan dendam.
Untuk itu kebahagian itu sebenarnya telah ada dari diri kita sendiri, jika kita tidak pernah merasakan  kebahagian dan tidak bisa menikmati hidup adalah karena sebenarnya kita sendiri yang tak pernah bisa melihat jalan kebahagian itu. Mata ini telah menutup pergerakan seluruh tubuh sehingga tak pernah bisa melihat jalan kebahagian yang sebenarnya jalan tersebut ada di depan mata kita.